Syarat Seorang Buzzer Twitter

  • Whatsapp

Syarat Seorang Buzzer Twitter – Dulu masa blog masuk masa popularitas, bisa terhitung dengan jari siapa saja yang terlihat sebagai influencer utamanya. Waktu itu brand meminta bantuan para blogger untuk menuliskan artikel dengan memuat informasi brand sebagai bagian dari tulisannya. 

Read More

Sekarang di eranya Twitter merajalela, peran individu yang menjadi influencer/buzzer /rainmaker/catalyst/ apapun namanya melebar. Bisa dibilang, banyak kesempatan menjadi seorang buzzer di ranah Twitter. 

Seorang Buzzer Twitter

Tidak harus menjadi selebriti yang punya puluhan ribu hingga jutaan follower, seorang individu yang tidak kita kenal sebelumnya asalkan punya karakteristik tweet yang khas dan punya follower yang loyal, bisa menjadi seorang buzzer.

Tidak ada rumus pasti bagaimana menjadi seorang buzzer yang baik. Tidak ada sekolahnya, tidak ada kuliahnya, dan yang jelas tidak ada aturan main bakunya. Namun saat seorang buzzer terikat kontrak kerja sama dengan sebuah brand, maka tentu ada kewajiban yang harus ia lakukan. Menginformasikan program kampanye sebuah brand tanpa si buzzer harus
kehilangan karakter aslinya di ranah Twitter. Antara susah dan mudah.
Antara memberikan benefit bagi diri sendiri dan tidak kehilangan follower yang susah payah diraihnya.

Mungkin beberapa pertimbangan berikut perlu dipikirkan sebelum seorang pengguna Twitter sebelum memutuskan menjadi seorang buzzer:

  • Tidak semua brand cocok dengan diri kita. Bisa jadi ada brand yang mendekati kita karena kita punya jumlah follower yang luar biasa banyak. Cek dulu, karakteristik follower kita
    seperti apa sih. Biasanya kita menulis tweet seperti apa yang sering
    di-RT oleh mereka? Lalu apa sih yang biasa kita tweet sehari-hari?
    Kalau biasanya kita menulis tweet tentang sesuatu yang fun di mata remaja, pastinya kurang nyambung dong kalau akhirnya kita menjadi buzzer sebuah brand sabun cuci.
  • Kemaslah tweet dalam bahasa yang sesuai karakter kita. Jangan hilangkan itu agar follower kita pun tetap menikmati tweet yang kita buat, meski itu bersifat soft selling terhadap sebuah brand.
    Kalau kita pandai meramu kata-kata setiap harinya atau pandai
    menggombal, misalnya, maka susunlah pesan yang ingin disampaikan brand dalam kata-kata tersebut.
  • Jangan terima brief apa adanya dari brand atau agency yang mewakilinya. Kita lebih mengenal karakter follower kita
    daripada mereka. Beranikan diri untuk mengajukan usulan penyampaikan
    pesan tweet yang kita anggap lebih elegan dan lebih mudah diterima oleh
    follower kita.
  • Terkadang ada brand yang meminta kita menuliskan tweet pada jam tertentu dengan jumlah 3 tweet per hari, misalnya. Kesepakatan dengan brand memang
    hanya mewajibkan kita menulis 3 tweet per hari, tapi coba kita
    tanyakan ke diri sendiri, apakah hanya dengan 3 tweet per hari, suatu
    pesan yang bersifat soft selling bisa tertanam di benak follower kita? Sebagai buzzer kita punya andil menyukseskan kampanye brand.
    Kalau menurut kita, kesuksesan pesan lebih bisa dicapai kalau tweet
    harus disampaikan dalam jumlah lebih banyak, namun dengan cara yang
    sangat halus, ya kenapa tidak kita tawarkan solusi itu ke brand?
  • Saat menjadi seorang buzzer, kita membangun percakapan dengan follower kita. Kita membangun teaser, cerita, dan puncak penyampaian pesan, yang menjadi kesatuan utuh. Pesan sebuah brand tidak
    bisa disamakan dengan iklan baris sebuah situs berita, yang sekedar
    menyelipkan tweet sponsor di antara setiap tweet percakapan kita.
  • Sebagai seorang buzzer, kita juga menjadi semacam brand ambassador. Artinya, kita perlu kenal dengan produk brand itu.
    Kita pernah merasakannya, atau ingin sekali mencobanya. Kalau kita
    pernah mencobanya, tentu akan mudah kita membagikan pengalaman ini
    kepada orang lain. Kita bisa berbagi cerita mengapa produk brand ini bisa bermanfaat bagi follower kita. Kalau memang produk brand ini belum pernah kita coba, setidaknya kita bisa mengajak follower kita untuk sama-sama berbagi imajinasi seandainya produk itu kita pegang.
  • Inti menjadi seorang buzzer adalah menjadi pencerita.
    Jangan bercerita dengan subjek diri kita sendiri. Jangan pamer foto
    kita mencoba sebuah produk dengan kita yang menjadi fokus utamanya.
    Kita tentu ingin follower kita merasakan apa yang kita rasakan. Jadi, berikanlah sebuah cerita yang memang menarik untuk orang lain.
  • Seorang buzzer yang sukses pasti sering kebanjiran pesanan dari banyak brand. Kita perlu membatasi diri juga, jangan sampai separuh dari isi tweet kita adalah pesan produk. Follower pun lama-lama akan muak. Aturlah kemampuan diri sendiri (dan lihat kadar kemuakan follower) dan berani berkata tidak, kalau memang itu akan membuat karakter diri kita hilang karenanya.

Pengalaman diri sebagai seorang buzzer memang belum banyak sih, namun mudah-mudahan ini bisa menjadi masukan untuk rekan-rekan kalau seandainya nanti ada pihak brand atau agency yang mewakilinya mendekati Anda.

Dari beberapa sumber lain dibawah:

Syarat menjadi buzzer menurut Nukman Luthfie, seorang pakar dan praktisi jejaring sosial Indonesia:

  1. Frekuensi tweet lebih tinggi dari pengguna biasa: ngetweet lebih
    sering akan membuat follower juga lebih banyak. Misalnya orang dengan
    frekuensi tweet sekitar 125 tweet per hari akan berpeluang lebih banyak
    mendapatkan follower lebih tinggi.
  2. Jumlah follower sekitar 5000: Bahkan orang dengan follower yang
    hanya sekitar 1000, sebenarnya sudah termasuk di atas rata-rata karena
    umumnya hanya follower pengguna Twitter
    standar ialah 200-an.  Kemampuan ngetweet bagus sudah bisa dikatakan
    dimiliki oleh mereka yang berfollower 1000-an. Angka follower 5000
    ditetapkan sebagai standar bagi seorang buzzer yang mumpuni karena
    statistik menyatakan bahwa mereka yang memiliki follower 5000 ini
    memiliki frekuensi tweet yang jauh di atas rata-rata. Ini berkorelasi
    dengan jumlah follower yang tinggi.
  3. Influence besar: tak cukup aktif, buzzer idealnya memiliki
    influence besar yang spesifik. Bukan makro, tapi khusus. Ada yang di
    bidang otomotif, ada yang di gadget. Tiap buzzer harus punya positioning
    seperti itu. Tanpa itu, perusahaan akan sulit mendekati.
    Perusahaan-perusahaan yang pasarnya spesifik akan memilih buzzer yang
    spesifik pula. Memang bisa saja memilih buzzer yang makro dengan jumlah
    follower banyak, meski belum tentu punya influence besar.
  4. Segmentasi: seperti sudah dibahas tadi, buzzer harus spesifik.
    Makin tersegmentasi, makin bagus dan berpeluang untuk didekati
    perusahaan yang relevan dengan bidang yang ia geluti.

Sementara, dari blognya suryosama.blogspot.com mengatakan:

Buzzer,
sebuah jenis profesi baru seiring populernya layanan jejaring sosial di
Indonesia. Biasanya bukan jadi profesi utama memang, tapi sepertinya
seorang buzzer terlihat punya rupiah berlimpah. Buzzer
punya tugas utama membantu menyukseskan sebuah rangkaian kampanye/iklan
suatu brand/produk/perusahaan khususnya di ranah jejaring sosial.
Buzzer lebih banyak ditemui di Twitter daripada jejaring sosial lainnya.

Kamu mungkin
penasaran, bagaimana seorang yang biasa saja di dunia nyata bisa jadi
seleb di Twitter dengan ribuan bahkan puluhan ribu follower, dan dari
situ dia bisa menadapatkan penghasilan dengan menjadi buzzer. Perhatikan
7 syarat pokok menjadi buzzer di Twitter berikut:

1. Sehat Jasmani & Rohani

Kesehatan adalah syarat wajib, ketika kamu sakit maka makan aja nggak enak, apalagi ngetuit. Mending berobat dulu deh..

2. Punya Akun Twitter dan Bisa Ngetuit

Menjadi
buzzer di Twitter membutuhkan paling nggak sebuah akun Twitter, selain
itu kamu juga harus bisa ngetuit dengan  baik dan benar. Maksudnya tuit
kamu menarik dan ngetuit secara rutin, tapi jangan keseringan, nanti
matik.

3. Follower Akun Twitter Banyak

Nah
ini yang biasanya dilihat sama ahensi atau pengiklan, makin banyak
follower kamu maka makin besar kemungkinan kamu bisa jadi buzzer.
Misalnya pengen cepet dapet follower banyak dalam sekejap kamu bisa beli
follower atau beli akun Twitter sekalian. Tapi ini nggak keren sih
menurut saya.

4. Selain Komputer/Laptop, Punya Hape yang Juga Konek Internet

Ngetuit
pake komputer/laptop pastinya bakal lebih produktip daripada pake hape,
ngetiknya lebih kenceng dan resiko typo lebih kecil. Misalnya mau
diselipin kultuit gitu kan lebih gampang copas dari Wikipedia. Tapi
untuk ngetuit kapan saja dan dimana saja kamu tetep butuh hape yang
selalu tersambung internet.

5. Punya Teman Buzzer

Rejeki
itu biasanya diberikan lewat orang-orang sekitar kita, ini sepertinya
juga berlaku untuk kasus buzzer ini. Ketika kamu punya teman satu atau
lebih buzzer dan kamu punya follower banyak, maka itu bisa jadi jalan
rejeki kamu.

6. Seorang  Selebritis

Jalan
ini agak berat, tapi kalo kamu benar-benar niat maka nggak ada yang
nggak mungkin. Percaya diri aja dan nggak usah dengerin apa kata
orang-orang.

7. Jeli dan Sabar

Ini juga penting, karena memilih klien butuh kejelian dan menunggu invoice cair butuh kesabaran tingkat internasional.
Demikianlah bekal yang bisa kamu siapkan untuk menjadi buzzer di Twitter, semoga kamu bisa jadi buzzer yang baik dan sukses.

Baca Juga : Seorang Buzzer

Demikianlah artikel Syarat Seorang Buzzer Twitter, semoga Anda dapat menjadi seorang buzzer twitter yang handal.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *