IBX5A49C9BC313D6 Taman Wisata Alam Sicike-Cike - Cerita Medan

Taman Wisata Alam Sicike-Cike

Taman Wisata Alam Sicike-Cike – Tiga Danau di Taman Wisata Alam Sicike-cike, Surga Anggrek yang terpencil. Di Sumatera Utara terdapat beberapa danau. Salah
satu yang paling terkenal adalah Danau Toba. Siapa yang tidak kenal dengan
danau yang satu ini. Danau Toba merupakan Danau terbesar di Indonesia. Bahkan
alamnya terkenal sampai mancanegara. 

Taman Wisata Alam Sicike-Cike

Namun selain Danau Toba, Sumatera Utara
juga mempunyai beberapa danau yang tak kalah cantiknya yaitu Danau Lau Kawar,
Danau Siais dan tak ketinggalan pula Tiga Danau di Taman Wisata Alam Sicike-cike yang sangat luar biasa cantik
topografinya. Bahkan, saya yang sudah lahir dan besar di Medan, baru mengenal
danau ini ketika saya berumur 21 tahun. Saya merasa beruntung dalam menjejaki Taman Wisata Alam yang satu ini. Taman Wisata Alam Sicike-sike, surga anggrek yang tersudut, terpencil,
karena banyak orang yang belum kenal tempat yang eksotis ini.

Tiga Danau di TWA Sicike-cike yang terletak di Kabupaten Dairi adalah sebuah rawa dataran tinggi seluas 575 hektar. Perjalanan ditempuh sekitar enam jam dengan mengendarai Bus Sinabung. Adapun, rute yang dilewati adalah Medan – Berastagi – Kabanjahe – Merek – Sumbul – Taman Wisata Iman – Bangun – Desa Laehole II. Sekitar 112 jenis anggrek terfokus pada ketiga danau tersebut.
Penduduk kerap masuk hutan mengambil beberapa petik anggrek untuk dibuat ramuan
obat.

 
Secara administratif Taman Wisata Alam
Sicikeh-cikeh termasuk Desa Pancar Nuli, Kecamatan Sidikalang, Kabupaten
Dairi, Propinsi Sumatera Utara. Pada umumnya keadaan topografi lapangan
TWA Sicike-cike sebagian bergelombang berat dan sebagian bergelombang
sedang dan ringan, dengan ketinggian antara 1.500-2.000 m dpl.

Keadaan vegetasi di TWA Sicike-cike
merupakan hutan hujan tropis pegunungan dengan jenis-jenis tumbuhan
antara lain : Samponus bunga (Dacrydium junghuhnii), Kemenyan (Styrax
benzoin), Kecing (Quercus sp) dan Haundolok (Eugenia sp). Beberapa jenis
satwa yang dapat dijumpai antara lain Beruang madu, Kambing hutan,
Harimau, Babi hutan dan Rusa.

Di samping keadaan alamnya sendiri yang
potensial sebagai tempat wisata juga terdapat beberapa obyek yang dapat
dinikmati, antara lain : keindahan danau, gejala alam dan lain
sebagainya. Beberapa kegiatan wisata yang dapat dilakukan antara lain
adalah lintas alam, berkemah serta foto hunting. Hutan Wisata
Sicike-cike, dengan potensi flora dan fauna yang dapat dijadikan
sebagai laboratorium penelitian hutan. 

Keberadaan kawasan ini juga
memberikan manfaat bagi penduduk sebagai sumber air resapan, bila
dikembangkan akan menjai obyek wisata yang potensial pada masa
mendatang. Kawasan ini juga mempunyai 3 buah danau saling berdekatan dan
keadaan airnya yang tetap stabil. Konon menurut legenda, dulunya adalah
3 buah desa yang berubah menjadi danau akibat kutukan seorang ibu
terhadap anaknya yang durhaka.

Berikut dijelaskan kutipan dari pemberitaan di salah satu media;

Siapa yang menyangka, selain Danau Toba dan Brastagi yang
selalu dielu-elukan sebagai pusat pariwisata di kawasan Sumatera Utara
(Sumut), kawasan ini ternyata memiliki banyak lokasi wisata lain. Hal
itu diungkapkan Evansus Manalu, selaku staf sub bagian data evaluasi dan
pelaporan serta humas Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam Sumut,
Selasa (2/10) di Medan.

Ia mengatakan, adalah taman wisata alam
Sicike-cike, yang secara administratif kawasan ini terletak di Dusun
Pancur Nauli Desa Lae Hole II Kecamatan Parbuluan Kabupaten Dairi, yang
tak kalah bersaing dengan kawasan wisata lainnya.

“Secara
administratif pemangkuan, kawasan Sicike-cike ini sebenarnya termasuk ke
dalam wilayah seksi konservasi wilayah I berkedudukan di Sidikalang,
Balai Besar KSDA Sumut,” ujarnya.

Namun katanya, tempatnya yang
terpencil yaitu sebelah utara dan selatan berbatasan dengan hutan
lindung Adian Tinjoan, sebelah timur berbatasan dengan Desal Lae Hole II
Pancur Nauli dan sebelah barat berbatasan dengan hutan Adian Tinjoan
Kecamatan Kerajaan, membuat banyak pihak awalnya beranggapan kawasan
taman wisata ini masuk dalam wilayah konservasi.

Bagi masyarakat
yang berminat mengunjungin lokasi wisata ini, dirinya mengatakan dari
Medan dapat ditempuh melalui jalan darat 170 km dengan waktu tempuh
sekitar 3,5 jam, dengan rute Medan-Brastagi-Bangun-Pancur Nauli-dan
sampailah di Sicike-cike.

“Pada awalnya status kawasan ini
berdasarkan peta kawasan hutan provinsi daerah tingkat I Sumut sebagai
lampiran dari SK Menteri Pertanian, ditunjuk sebagai hutan produksi
terbatas. Barulah kemudian pada tahun 1989 ditetapkan perubahan fungsi
hutan produksi terbatas danau Sicike-cike seluas 575 Ha menjadi hutan
wisata. Itu cerita yang benar,” ungkapnya.

Ketika tim berkunjung
ke lokasi pada Minggu, 30 September 2012 lalu, Evansus menjelaskan
potensi di kawasan ini dari sektor flora cukup baik. Tumbuhan asli yang
terdapat di sana antara lain jenis Sampinur Tali, Sampinur Bunga,
Haundolog dan Kemenyan. Selain itu ada pula jenis anggrek hutan, kantung
semar, gagatan harimau, rotan dan pakis.

Untuk potensi fauna,
beberapa binatang asli Sumut seperti Siamang, musang, itik liar, burung
enggang, sangat banyak dijumpai, bersamaan dengan jenis-jenis fauna
layaknya serangga dan kupu-kupu berbagai motif dan jenis.

“Sementara
dalam hal wisata, sungai Lae Pandaro dengan kapasitas air yang cokelat
serta udara sejuk adalah sambutan pertama saat mencapai pintu masuk
kawasan ini. Sementara dalam hal keunikan, adanya tiga buah danau yang
airnya tidak pernah bertambah dan berkurang meski musim kemarau dan
penghujan,” ungkapnya.

Melihat komplitnya potensi dan keunikan
yang dimilikinya, maka sangat dimungkinkan dilakukan pengembangan.
Beberapa peneliti baik dari kalangan perguruan tinggi dan peneliti dari
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), serta peneliti individu sudah
berulangkali melakukan riset dikawasan ini.

Selain itu, kawasan
ini dapat pula dikembangkan sebagai pusat pembelajara konservasi alam.
Ia memberikan pilihan di mana, duninia pendidikan di Sumut menggunakan
dan memanfaatkan potensi yang ada di dalam kawasan tersebut sebagai
laboraturium alam.

“Masing banyak lagi sebenarnya manfaat lain
dari keberadaan kawasan ini yang dapat difungsikan bagi berbagai
kalangan. Kami melihat dari observasi yang kami lakukan, tidak menutup
kemungkinan kawasan Sicike-cike terdapat tanaman pengobatan alternatif,”
ungkapnya.

KOMENTAR

BACA JUGA