Sekilas Dibalik Sehelai Ulos

  • Whatsapp

Ulos atau sering juga disebut kain ulos adalah salah satu busana khas Indonesia. Ulos secara turun temurun dikembangkan oleh masyarakat Batak, Sumatera. Dari bahasa asalnya, ulos berarti kain. Cara membuat ulos serupa dengan cara membuat songket khas Palembang, yaitu menggunakan alat tenun bukan mesin.

Warna dominan pada ulos adalah merah, hitam, dan putih yang dihiasi oleh ragam tenunan dari benang emas atau perak. Mulanya ulos dikenakan di dalam bentuk selendang atau sarung
saja, kerap digunakan pada perhelatan resmi atau upacara adat Batak,
namun kini banyak dijumpai di dalam bentuk produk sovenir, sarung
bantal, ikat pinggang, tas, pakaian, alas meja, dasi, dompet, dan gorden.

Read More

Ulos juga kadang-kadang diberikan kepada sang ibu yang sedang mengandung supaya mempermudah lahirnya sang bayi ke dunia dan untuk melindungi ibu dari segala mara bahaya yang mengancam saat proses persalinan.

Sebagian besar ulos telah punah karena tidak diproduksi lagi, seperti
Ulos Raja, Ulos Ragi Botik, Ulos Gobar, Ulos Saput (ulos yang digunakan
sebagai pembungkus jenazah), dan Ulos Sibolang.

Ulos….

Ulos….

Berbicara mengenai penggunaan ulos dalam masyarakat Batak adalah hal
yang menarik, bukan hanya karena peranan ulos sangat dominan dalam
setiap kegiatan adat dalam masyarakat Batak Toba, tetapi karena
akhir-akhir ini ada kontroversi pemahaman dan penafsiran tentang makna
ulos di antara orang Kristen berlatar belakang Batak.

Ada yang menerima
dan ada yang menolak sama sekali penggunaannya (membakar ulos) dengan
argumentasinya masing-masing. Dan yang menarik, baik yang menerima
maupun yang menolak sama-sama mengaku bertolak dari Alkitab.

Ulos sebagai hasil peradaban
masyarakat Batak pada kurun waktu tertentu, mengandung makna ataupun
pesan penting yang hendak disampaikan dalam penggunaannya.

Berikut sedikit pembahasan Ulos…

Agar masalah pembahasan tidak terlalu luas dan lebih terfokus pada
masalah dan tujuan dilakukan batasan hanya pada masyarakat Batak Toba sebagai salah satu sub-suku Batak
(orang Batak terdiri dari Batak Toba, Angkola, Pakpak, Karo,
Simalungun), dan masyarakat Batak Toba yang dimaksud dalam tulisan ini
adalah orang-orang Batak yang sudah Kristen, sebab bagi orang Batak pra
atau non Kristen, penggunaan ulos ini bukan masalah.

Pengertian

Ulos adalah sejenis pakaian yang berbentuk selembar kain tenunan khas
Batak dengan pola dan ukuran tertentu yang digunakan untuk melindungi
tubuh. Menurut catatan beberapa ahli tekstil, ulos dikenal masyarakat
Batak pada abat 14 sejalan dengan masuknya alat tenun dari India.
Artinya, sebelum masuknya alat tenun ke tanah Batak, masyarakat Batak
belum mengenal ulos. Dan dengan demikian belum juga ada budaya memberi
dan menerima ulos (mangulosi = mengenakan ulos) sebagaimana yang sering
dilakukan masyarakat Batak pada acara-acara adat. Jadi dapat dikatakan
ulos adalah hasil peradaban masyarakat Batak pada kurun waktu tertentu. 

Nama Dan Jenis Ulos Batak

Ulos Batak diberi nama berdasarkan besar dan kecilnya ulos, dan
berdasarkan teknik pembuatan dan lukisan/hiasan yang dituangkan di dalam
ulos, yaitu: (1). Ulos Pinunsasaan (ulos besar yang merupakan induknya
ulos). (2). Ragi idup (ragi hidup). (3). Ulos Sibolang (ulos
berwarna-warni/belang). (4). Sitoluntuho (ulos dengan tiga garis). (5).
Mangiring (ulos kecil untuk gendongan anak kecil). (6). Bintang Maratur
(ulos besar, bintang teratur). (7). Ragi Hotang (ragi yang kuat-ulos
kecil). Masih banyak lagi nama-nama ulos di luar yang tujuh ini, tetapi
yang masih ada dansering digunakan hingga saat ini hanyalah yang telah
disebutkan di atas.

Ditinjau dari segi fungsi pemakaian ulos, ada banyak jenis ulos
yakni: (1). Ulos Pasupasu (ulos berkat -diserahkan pada saat penyampaian
doa berkat). (2). Ulos Parhehe (ulos membangkitkan semangat- dikenakan
di atas bahu). (3). Ulos Pargomos (ulos sebagai tali di kepala). (4).
Ulos Parhibas (sikap siaga-diikatkan di pinggang). (5). Ulos Parompa
(Pengayom- digunakan menggendong). (6). Ulos Pangapul (penghiburan –
diberikan kepada orang yang berduka). (7). Ulos Bulangbulang (menobatkan
pemimpin-diberi kepada pemimpin atau   orang yang berjasa banyak). (8).
Ulos Pansamot, diberikan orang tua pengantin wanita kepada orang tua
pengantin laki-laki. (9). Ulos Hela (ulos menantu), diberikan orang tua
pengantin wanita kepada kedua mempelai. (10). Ulos Saput (pembalut)
untuk orang yang meninggal, diserahkan oleh pihak  keluarga istri. (11).
Ulos Tujung (penutup kepala), dikenakan oleh suami atau istri yang
masih muda, yang ditinggalkan oleh pasangan hidupnya (meninggal). (12).
Ulos Pargomgom (mengayomi) diberikan oleh kakek/nenek kepada cucunya.
(13). Ulos Mulagabe/Tondi, diserahkan pihak orang tua si istri
(hulahula) kepada menantu dan putrinya saat menunggu kelahiran anak.
(14). Ulos Holong (kasih), pemberian dan sarana untuk mendoakan
pengantin.

Di samping jenis yang disebutkan di atas, masih ada ulos na so ra buruk (ulos yang tidak pernah aus atau lapuk).
Ini bukan dalam bentuk kain tenunan tetapi berbentuk in natura yakni
sebidang tanah. Alasan pemberian nama ini bagi sebidang tanah yang
diserahkan oleh pihak hulahula (orang tua si istri) kepada putri dan
menantunya, tidak disinggung oleh Vergouwen dengan jelas. Menurut hemat
saya ulos na so ra buruk (tanah) harus dipahami dalam arti simbolis, di
mana tanah memiliki peran penting bagi manusia untuk kelangsungan
hidupnya. Jadi tanah pemberian disebut sebagai ulos na so ra buruk
menunjuk pada relasi sekaligus perhatian yang tidak akan pernah putus
dari pihak hulahula kepada keluarga menantunya.

Penggunaan Ulos Dalam Acara Adat Batak

Pada awalnya ulos adalah merupakan pakaian sehari-hari masyarakat
Batak sebelum datangnya pengaruh Barat. Perempuan Batak yang belum
menikah melilitkannya di atas dada, sedangkan perempuan yang sudah
menikah dan punya anak cukup melilitkannya di bawah dada. Ulos juga
dipakai untuk memangku anak (parompa), selendang (sampesampe ) dan
selimut di malam hari saat kedinginan.

Secara spesifik, pada masa pra-Kristen, ulos sehari-harinya dijadikan
medium (perantara) pemberian berkat, seperti dari mertua atau hulahula
kepada menantu, kakek- nenek kepada cucu, tulang (paman) kepada bere
(anak dari saudaranya perempuan), raja kepada rakyat. Dalam perkembangan
sejarah nenek moyang orang Batak, kostum atau tekstil (pakaian)
sehari-hari ini menjadi simbol dan medium pemberian pada acara adat
Batak. Menurut Vergouwen, ulos menjadi satu di antara sarana yang
dipakai oleh hulahula untuk mengalihkan sahala-(wibawa) nya kepada
boru-(putri dan menantu) nya. Ulos itu dibentangkan menutupi badan
bagian atas dari si penerima, diiringi dengan kata-kata “sai horas ma
helanami maruloshon ulos on, tumpahon ni Ompunta martua Debata dohot
tumpahon ni sahala nami” (selamat sejahteralah kau menantu kami, semoga
peruntungan baik menjadi milikmu dengan memakai kain ini dan semoga
berkat Tuhan yang awal dan sahala kami menopangmu) Sebagai imbalan pihak
si penerima memberi piso dalam bentuk uang dan makanan.

Secara umum pemberian ulos dilaksanakan pada acara adat Batak yaitu:
saat pernikahan; tujuh bulan ketika mengandung anak pertama; waktu
kemalangan (meninggal). Pada acara pernikahan pihak hulahula memberikan
tiga lembar ulos (dua helai untuk orang tua pengantin laki-laki: ulos
pansamot dan pargomgom; satu helai untuk menantu yang disebut ulos
hela). Ketika memberikan ulos pansamot pihak hulahula mengucapkan
kata-kata yang mengandung pesan dan harapan:

“On ma ulos pansamot lae, asa gogo hamu mansamot tu joloanon,
mangalului sipanganon ni borungku naung gabe parumaenmu, siulosi pahompu
di anak, siulosi pahompu di boru, donganmu sarimatua”
(Inilah ulos
pansamot =mencari nafkah, agar kamu kuat mencari nafkah bagi kebutuhan
puteri saya yang telah menjadi menantumu; ulos ini menghangatkan cucu
laki-laki maupun perempuan, sebagai teman hingga akhir hayatmu).
Demikian juga ketika memberikan ulos pargomgom disampaikan juga pesan
dan harapan: “On ma ulos pargomgom di hamu, manggomgom pahompu anak,
menggomgom pahompu boru situbuhonon ni parumaenmu tu joloanon. Horas ma
hamu manggomgom parumaenmi”
(Inilah ulos pargomgom= pengayom bagi
kalian, mengayomi cucu laki-laki dan perempuan yang akan dilahirkan oleh
menantumu pada hari yang akan datang. Selamatlah kalian mengayomi
menantumu).

Acara adat kedua adalah pada masa-masa anak perempuan yang sudah
menikah menunggu kelahiran anak pertama, yang disebut acara “pasahat
ulos tondi/mulagabe”. Acara ini bertujuan untuk menguatkan jiwa dan
semangat si wanita agar menjaga kehamilannya dengan baik, sekaligus
permohonan kepada Tuhan agar si bayi dapat lahir dengan semalat demikian
juga ibu yang melahirkannya.

Vergouwen mensinyalir kain ini dianggap
memiliki daya istimewa yang mampu melindungi dan memberikan berkat yang
didambakan, dan akhirnya kain ini akan menjadi benda keramat bagi
pemiliknya seketurunan. Apabila dilihat dari ungkapan atau syair yang
disampaikan pihak hulahula pada saat menyerahkan ulos ini, apa yang
disinyalir oleh Vergouwen nampaknya perlu dicermati dan ini nanti akan
ditinjau pada bagian berikut.

Kata-kata yang disampaikan pada penyerahan
ulos ini: “ On ma ulos mula gabe di hamu, ulos sibahen na las badan
dohot tondimuna. Asi ma roha ni Tuhan dipargogoi hamu, lumobi ho inang,
asa tulus na taparsinta I jaloonmuna sian Tuhan. Horas ma hamu, horas
ma hita paima haroan nanaeng pasahaton ni Tuhan di hita”
(Inilah
ulos mula gabe bagi kamu, ulos yang menghangatkan badan dan rohmu.
Kiranya Tuhan memberi kekuatan khususnya bagi putriku, agar apa yang
kita harapkan dapat terkabul. Selamatlah kalian, selamatlah kita
menantikan kelahiran anak yang diberikan diberika oleh Tuhan).

Acara adat ketiga adalah pada waktu kemalangan (anggota keluarga
meninggal dunia). Sesuai dengan fungsinya, ulos yang diserahkan oleh
hulahula ada lima yakni : ulos parsirangan, ulos saput, ulos tujung,
ulos sampetua, ulos holong.

Ulos parsirangan adalah ulos penutup jenazah
seorang yang belum berumah tangga. Makna pemberian ulos ini adalah
sebagai tanda bahwa pihak hulahula tetap mengasihi yang meninggal hingga
akhir hayatnya dan waktu meninggalpun diberangkatkan dengan baik.

Ulos
saput secara hurufiah berarti pembungkus. Ulos parsirangan dan ulos
saput fungsinya sama, yaitu menutup jenazah dan maknanya pun sama. Hanya
istilah yang membedakan, kalau bagi yang belum berkeluarga disebut ulos
parsorangan dan diserahkan oleh saudara laki-laki dari si ibu yang
kemalangan. Sedangkan bagi yang sudah berkeluarga disebut saput dan yang
menyerahkan adalah orang tua dari sang isteri.

Ulos tujung adalah yang
dikerudungkan kepada suami atau isteri yang ditinggal mati. Bila seorang
ibu ditinggal mati suami, maka hulahulanya yang memberikan tujung. Bila
seorang bapak ditinggal mati isteri, maka tulang (saudara laki-laki
dari orang tua si ibu) yang menyerahkan. Ulos ini sebagai tanda bahwa si
isteri atau suami yang ditinggal mati sedang dalam keadaan berduka dan
membutuhkan dukungan dari sanak-saudara dan sahabat untuk menguatkan
serta membangkitkan semangatnya agar mampu menghadapi serta memenangkan
dukacita tersebut.

Ulos sampetua adalah ulos yang diberikan kepada
seorang nenek atau kakek yang ditinggal mati oleh pasangannya. Kalau
yang diberi itu namanya ulos tujung berarti masih ada kemungkinan untuk
menikah, tetapi bila namanya ulos sampetua (sampai tua) itu berarti
sampai akhir hayatnya tidak akan menikah lagi. Yang menyerahkan adalah
saudara laki-laki dari orang tua si ibu atau suami yang ditinggal mati.

Ulos holong adalah ulos yang diberikan kepada anak-anak
almarhum/almarhumah dan dikenakan di atas pundak mereka. Makna pemberian
ini adalah sekalipun orang tua mereka meninggal tetapi kasih dan
kehangatan persekutuan dengan keluarga hulahula senantiasa terpelihara,
seraya mendoakan mereka agar tetap dalam lindungan yang Maha Kuasa.

Dari uraian di atas jelas terlihat bahwa bagi orang Batak bukan ulos
itu yang terpenting, tetapi kata-kata (berkat atau pesan) yang
disampaikan bersama-sama pada saat mengenakan ulos itu kepada orang yang
seharusnya menerimanya. Dengan demikian yang menjadi pertanyaan,
bolehkah orang Kristen menggunakan ulos, yang merupakan penemuan orang
Batak pra-Kristen? Apakah kalau ulos digunakan dalam acara-acara adat
Batak bukan merupakan pelestarian sinkretisme yang berdampak pada
merosotnya penghayatan kekristenan itu dalam kehidupan bergereja? Hal
inilah yang akan dibahas pada bagian tinjauan etika Kristen terhadap
penggunaan ulos Batak berikut ini.

Simbol dan Makna

Dalam kegiatan adat Batak ada banyak simbol-simbol seperti nasi,
ikan, beras, air termasuk ulos, yang memiliki makna religius-spiritual.
Karena tulisan ini berbicara tentang ulos, maka dalam pokok bahasan ini
yang dijelaskan adalah mengenai ulos. Dalam adat Batak pada dasarnya
ulos adalah salah satu simbol dari kehangatan. Bagi orang Batak ada 3
simbol yang memberi kehangatan yaitu: matahari, api dan ulos. Dari
ketiga simbol ini, ulos itulah yang paling nyaman dan akrab. Sebab
kehangatan dari mata hari tidak selalu dapat diperoleh setiap waktu,
demikian juga dengan api, bila terjadi kesalahan bisa membinasakan. Jadi
makna dari simbol ulos dan mangulosi adalah memberi kehangatan kepada
yang diulosi. Memberi kehangatan itu adalah karena adanya kasih sayang
di antara yang memberi dan yang menerima. Dengan demikian ulos merupakan
tanda bahwa di antara kedua pihak pemberi dan penerima, terdapat
hubungan yang saling mengasihi dan saling menghormati. Tanda yang
mengandung makna hubungan yang indah sekaligus berisi doa, pesan dan
harapan untuk kebaikan.

Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa sebenarnya bukan ulos itu
yang menjadi sentral, tetapi kata-kata (pesan atau berkat) yang ingin
disampaikan melalui medium ulos. Demikian juga halnya dengan ulos,
sebagai hasil karya manusia dengan nuansa seni yang kaya dan indah, pada
dasarnya tidaklah memiliki kekuatan magis. Sehingga ulos bukanlah
merupakan sarana yang dapat dipakai hulahula untuk mengalihkan wibawanya
kepada boru-nya. Ulos yang disampaikan pada acara pernikahan adalah
suatu simbol hubungan yang akrab yang baru terjalin dan senantiasa
berlangsung hingga akhir hayat dari kedua belah pihak dan sarana
mengungkapkan permohonan kepada Tuhan Allah, agar Dia yang memberikan
perlindungan dan berkat bagi keluarga yang baru menikah. Terkait dengan
pemberian ulos mulagabe atau ulos tondi, yang diberikan kepada wanita
yang sedang mengandung anak pertama 5-7 bulan, harus ditegaskan bahwa
istilah ulos tondi (roh) tidak memiliki dasar teologis dalam
kekristenan. Sebab tidak ada seorang pun manusia yang dapat memelihara
atau menyelamatkan roh seseorang.  Karena itu baiklah dinamakan dengan
“ulos mulagabe” (ulos awal mempunyai anak). Sekali lagi harus
ditekankan, bukan ulos sebagai pelindung dan awal adanya anak pada
keluarga tersebut, itu hanya sebagai tanda yang mengandung permohonan
agar si ibu tetap dalam perlindungan Tuhan. Pemahaman sedemikin juga
berlaku bagi pemberian ulos ketika terjadi kemalangan (meninggal dunia).
Jenis dan alamat ulos (ulos parsirangan, saput, tujung, sampetua, ulos
holong) kepada siapa disampaikan memiliki makna yang positif, menghibur
orang yang kemalangan dan memberi dorongan agar tabah dan berpengharapan
ke masa depan yang lebih baik di balik kemalangan yang dialami.

Dengan penjelasan di atas maka sebagai orang Batak, kita boleh
menggunakan ulos dalam acara adat istiadat masyarakat Batak, dengan
catatan semua yang dilaksanakan adalah memuliakan Tuhan bukan memuliakan
sesama manusia. Ini yang harus diingat oleh pemberi ulos (hulahula)
agar tidak menempatkan diri sebagai sumber berkat yang harus disanjung
oleh yang menerima ulos (boru), tetapi senantiasa memposisikan diri
sebagai manusia biasa yang memiliki kelemahan dan dosa, tetapi
dilayakkan menjadi alat di tangan Tuhan menjadi berkat bagi keluarga dan
lingkungan di mana dia tinggal. Demikian juga sebaliknya dari pihak
yang menerima ulos, jangan melihat dan memperlakukan hulahula sebagai
sumber berkat dan memiliki derajat kemanusiaan yang lebih tinggi. Di
hadapan Tuhan manusia adalah sama-sama mahluk yang dikasihi dan
diperlakukan sama di dalam kasihNya. Dengan demikian kita akan terhindar
dari sikap mendewakan manusia dan budaya, tetapi juga terdorong untuk
terus menerus memohon kepada Tuhan agar kiranya Dia berkenan menguduskan
dan memakai adat itu sebagai salah satu sarana penyampaian kebenaran
Firman Tuhan dan membangun komunitas masyarakat yang beriman dan
berbudaya dengan benar.

Dari seluruh uraian di atas jelas terlihat betapa pentingnya
pemahaman yang benar akan makna suatu simbol atau tanda yang digunakan
sebagai sarana dalam rangka relasi di antara orang Batak dengan segala
upacara adat yang terdapat di dalamnya. Hal yang menarik di sini,
ternyata ulos dengan segala nama dan jenisnya memiliki makna religius
yang semunya memiliki kaitan dengan yang Maha Kuasa (Tuhan). Ulos bukan
hanya sekedar penghangat tubuh atau penghias penampilan, melainkan
mengandung makna dan harapan serta permohonan pada Tuhan demi
kesejahteraan kerabat yang dikasihinya. Melalui upacara adat pemberian
ulos ini, kasih Allah yang tidak terjangkau itu dapat dirasakan dalam
relasi antara hulahula dengan boru, orang tua dengan anak, tulang dan
bere. Dalam semua acara adat yang dilaksanakan tidak pernah terlepas
dari relasi dengan yang Maha Kuasa. Itu berarti dalam acara adat
penggunaan ulos diyakini Tuhan juga ikut campur tangan dan seluruh
proses kehidupan yang dijalani seseorang.

Karena itu ulos Batak tidak boleh dibakar atau dianggap najis, sebab di
dalam ulos tidak terkandung suatu penolakan terhadap kuasa Tuhan. Justru
dengan menggunakan ulos dengan teratur berdasarkan nama dan fungsinya,
spiritualitas seseorang dapat bertumbuh ke arah yang lebih dewasa dan
itu dapat menolongnya untuk semakin merasakan makna kasih Tuhan yang
memperlakukan manusia secara manusiawi. Ini mendorong manusia untuk
memperlakukan sesamanya dengan manusiawi hingga akhir hayatnya.
Penghargaan atas nilai-nilai kemanusiaan dan religius terkandung dalam
pemberian ulos Batak, dan dengan demikian terbuka kemungkinan Tuhan
bekerja menyatakan kasihNya (termasuk menguduskannya) kepada manusia.

Ulos….

Ulos….

Tidak banyak kajian tentang kain Ulos yang ditemukan di Indonesia.

Ulos merupakan suatu produk penting asal salah satu peradaban tertua
di Asia yang sudah ada sejak 4.000 tahun lalu, yakni kebudayaan Batak.
Ulos bahkan telah ada jauh sebelum bangsa Eropa mengenal tekstil.
Demikian menurut kajian yang dilakukan oleh Miyara Sumatera Foundation.

Selain itu, melebihi nilai estetika yang dapat kita temukan pada
sehelai kain tenun tradisional, kain Ulos mengandung makna mendalam
pula. Ulos rupanya representasi dari semesta alam. Di masa lampau,
perempuan-perempuan Batak bangga menenun, memakainya, dan mewariskannya
kepada keluarga sebagai suatu pusaka.

Namun tidak ada banyak kajian terhadap Ulos ditemukan di Indonesia.
Melainkan di banyak museum dan universitas di luar negeri seperti
Singapura, Amerika, Inggris, dan Belanda. “Saat ini kami tengah membuat
kajian dengan melakukan aktivitas advokasi dan kampanye melalui diskusi
komunitas mengenai sejarah-budaya kain-kain kuno Sumatra, serta
mempersiapkan pameran kain,” tutur Nurdiyansah Dalidjo dari

Miyara
Sumatera Foundation.

Miyara Sumatera Foundation, sebagai organisasi yang bergerak untuk
pelestarian budaya, konservasi alam, dan pengembangan pariwisata
Sumatra, terlibat dalam pelestarian kain kuno. Salah satu yang juga
menjadi perhatian besar Miyara Sumatera adalah keberadaan kain
kapal–selain terhadap sekitar lebih dari 10 koleksi kain asal Lampung.

Nurdiyan menambahkan, kain kapal telah punah akibat letusan Krakatau
dan masuknya kolonialisme. Di mana kemudian masyarakat lokal dipaksa
untuk membuat tekstil bagi tentara perang, sehingga kini tidak ada lagi
penenun yang memproduksi kain kapal. Oleh sebab itu, kain kapal sudah
menjadi koleksi paling prestisius di berbagai museum di luar negeri.

Ketua Miyara Sumatera Foundation Irma Hutabarat menegaskan,
pengenalan Ulos kepada anak-anak di sekolah amat penting sebagai upaya
pengenalan lokal dan pelestarian budaya Batak. “Di sekolah dasar,
idealnya anak-anak sudah dikenalkan tentang ulos sebagai unsur penting
yang ada dalam budaya Batak.”

Sumber jojogaolsh.wordpress.com

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *