Peningkatan Kemampuan Anak dalam Mengelola Taman Baca Bersama KKSP

Peningkatan Kemampuan Anak Dalam Mengelola Taman Baca
Peningkatan Kemampuan Anak Dalam Mengelola Taman Baca

CERITAMEDAN.COM, Medan – Membaca. Sepele—dan memang acap disepelekan, terlebih di negeri ini—tapi mempunyai arti penting sepanjang peradaban manusia. Gerak sejarah dunia sampai saat ini tak bisa dinafikan dipengaruhi oleh pembacaan-pembacaan yang dilakukan oleh pelaku-pelakunya. Sebut saja penemuan atom, listrik, mesin cetak, media sosial, dan bahkan revolusi sosial yang terjadi di tengah masyarakat pun tak terlepas dari pembacaan-pembacaan yang dilakukan Dalton, Einstein, Guternberg, Zukerberg, Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Sjahrir, dan kawan-kawan.

Einstein sangking minatnya pada membaca pernah berujar, “satu-satunya lokasi yang harus Anda ketahui adalah perpustakaan.” Bukan bioskop, mall atau plaza. Soekarno, Bapak Bangsa kita itu adalah seorang penggila baca. Hatta adalah seorang negarawan yang mencintai buku dan memiliki ribuan buku di perpustakaannya, bahkan Hatta pernah berujar, “Saya rela dipenjara asal bersama buku, dengan buku saya bebas!” Demikian juga dengan tokoh-tokoh besar lain, tak ada yang bisa dipisahkan dari aktifitas membaca.

Bahkan, saking pentingnya aktifitas ini, Muhammad Sang Nabi mendapatkan wahyu pertama dari Tuhannya dengan perintah, “Bacalah!”

Mahfum akan pentingnya aktifitas ini, Yayasan Kelompok Kerja Sosial Perkotaan (KKSP), sejak berdiri lebih dari 30 tahun, telah melakukan aksi dan kampanye kegiatan membaca di masyarakat. Istimewa lagi, kegiatan ini dilakukan bersama dengan anak-anak, khusus lagi anak-anak yang termarjinalkan.

KKSP telah melakukan pendampingan dengan menggunakan medium membaca—disamping medium lain: seni, bermain, olaharga—kepada anak-anak yang berada area kumuh dan miskin kota yang ada di kota Medan (sepanjang pinggiran Sungai Deli: Kebun Sayur, Sungai Mati, Aur), anak-anak jalanan, dan anak-anak desa yang jauh dari akses pembangunan.

“Membaca telah kami jadikan media agar anak-anak itu mengenal diri dan lingkungannya. Siapa mereka? Pada anak anak jalanan misalnya, mengapa mereka bisa tinggal di jalanan? Apa yang bisa mereka lakukan? Tentu saja tidak terbatas membaca teks yang ada di buku, tapi juga membaca situasi dan konteks yang mereka hadapi,” ujar Sri Eni Purnamawati, Direktur Eksekutif KKSP ketika ditemui di sela-sela kegiatan pelatihan Pengelolaan Taman Baca di Perpustakaan dan Arsip Daerah Sumatera Utara di Medan (Jumat, 20/10/2017).

KKSP Dalam Peningkatan Kemampuan Anak Dalam Mengelola Taman Baca

Menurut Sri Eni dengan membaca anak-anak dan orang dewasa secara bersamaan akan belajar dan memahami banyak hal, terutama tentang nilai-nilai luhur: kemanusiaan, perkawanan, keadilan, dan lain-lain. Dengan aktifitas itu juga, menurut Eni, mereka belajar menyusun alur berfikir sehingga bisa menuliskan dan menyampaikan persoalan-persoalan yang mereka hadapi, juga dapat mengambil peran apa yang bisa dilakukan.

“Ya, ada kegiatan aksi dan refleksi di sana. Apa yang dibaca tentu tidak dipendam saja, tapi untuk dipertanyakan lagi, didiskusikan lagi, didialogkan lagi, mengapa bisa begitu? Misalnya, hasil pembacaannya adalah ‘sungai kita kotor’ dalam refleksi akan dipertanya, ‘mengapa bisa kotor?’ dan dalam aksi lagi, ‘apa yang bisa kita lakukan agar tidak kotor?”

Sampai saat ini KKSP konsisten menjadikan membaca sebagai media untuk mengangkat harkat hidup anak-anak yang terpinggirkan. Sampai saat ini KKSP bersama anak anak dan masyarakat telah mendirikan setidaknya 6 lokasi yang beradai di Kota Medan, Binjai, dan Deli Serdang. Kegiatan yang dilakukan bersama dengan anak-anak di Perpustakaan dan Arsip Daerah Sumatera Utara diselenggarakan dua hari 20-21 Oktober 2017, bekerjasama dengan APISI Sumatera Utara dan komunitas Medan Membaca, yakni melatih anak-anak agar mencintai kegiatan baca-membaca, adalah salah satu kegiatan KKSP untuk menumbuhkan dan menjaga rasa cinta membaca pada anak-anak.

Kita berharap dengan kegiatan ini bisa melahirkan penemu-penemu dan perubah sejarah yang namanya bisa tertulis berdampingan dengan Einstein, Dalton, Sukarno, Sjahrir, Tan Malaka atau Hatta. Siapa tahu!? Terlalu muluk? Tidak, makanya bacalah!

KOMENTAR

BACA JUGA