Kelapa Sawit Sumatera Menuju Keseimbangan Ekonomi dan Alam

Kelapa Sawit Sumatera Menuju Keseimbangan Ekonomi Dan Alam
Kelapa Sawit Sumatera Menuju Keseimbangan Ekonomi Dan Alam

CERITAMEDAN.COM – Kelapa sawit merupakan komoditi strategis nasional yang berperan bagi pemasukan devisa negara, penyediaan lapangan kerja, dan pengembangan wilayah. Luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia mencapai 11,4 juta Ha dengan total produksi CPO sebanyak 35 juta ton dan berkontribusi sebesar 18,97% terhadap total nilai ekspor komoditas Indonesia (Kementrian Perindustrian dan Perdagangan, 2011). Di sisi yang lain, perkebunan kelapa sawit juga menimbulkan efek negatif bagi lingkungan seperti peningkatan emisi carbon, peningkatan laju deforestasi, serta kehilangan keanekaragaman hayati.

Forum Sekretariat Bersama Kelapa Sawit Berkelanjutan yang dibentuk melalui SK Gubernur Sumatera Utara No. 188.44/431/KPTS/2015 dikoordinir oleh Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Utara merupakan wadah komunikasi seluruh pihak yang berkepentingan, baik dari sektor swasta, pemerintah, maupun LSM. Tujuannya, untuk membangun pemahaman dan kerja sama dalam rangka mewujudkan visi pemerintah terhadap sawit berkelanjutan pada bentang alam Sumatera Utara.

Pada tanggal 24 Agustus 2015, di Kantor Gubernur, Dinas Lingkungan Hidup berkolaborasi dengan Conservation International (CI) mengadakan kegiatan forum dialog dengan topik: “Keberlanjutan Sawit Terhadap Kesesuaian Dengan Kelestarian Lingkungan.” Narasumber pada pertemuan ini adalah Ir. Aep Purnama, M. Si (Kasubdit Inventarisasi dan Penetapan, Direktorat Pengendalian Kerusakan Gambut, Dirjen Pengendalian Pencemaran Kerusakan Lingkungan), Soedjai Kartasasmita (Ketua Dewan Pembina Gabungan Perusahaan Perkebunan Indonesia), dan Prof. Ir. Zulkifli Nasution, M.Sc., Ph.D. (Guru Besar Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara).

Peserta kegiatan berjumlah 70 orang yang berasal dari SKPD terkait dan para pelaku serta pemerhati kelapa sawit. Tujuan pertemuan adalah: “Pembahasan kebijakan-kebijakan pemerintah yang baru terkait pengelolaan lahan gambut dan mendiskusikan solusi-solusi terbaik untuk melestarikan perkebunan kelapa sawit dengan turut mempertimbangkan isu-isu global yang sedang berkembang,” jelas Dr. Iman Santoso, MSi (Senior Policy Advisor, Conservation International).

Provinsi Sumatera Utara merupakan salah satu provinsi yang memiliki ekspansi lahan sawit dengan peningkatan signifikan dari 451.000 Ha di tahun 1990 menjadi 1,4 juta Ha pada tahun 2015 (Statistik Perkebunan Sawit dan Paspi-IPB). Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Utara Dr. Ir. H. Hidayati, M.Si yang dalam hal ini diwakili oleh Sekertaris Dinas Lingkungan Hidup Siti Bayu Nasution SIP, MSi menyampaikan bahwa: “Ekspansi lahan sawit yang terus berkembang pada 18 Kabupaten di Jl. Sei Bangirun No. 8 Kelurahan Merdeka Kecamatan Medan Baru Medan-Sumut 20154 Sumatera Utara, membutuhkan perhatian seluruh pihak untuk mengimplementasikan praktik perkebunan kelapa sawit berkelanjutan sebagai upaya menjaga lingkungan.”

Pada sambutan Gubernur Sumatera Utara, yang dibacakan oleh O.K. Zulkarnain, SH, M.Si (PLH Sekertaris Daerah Provinsi Sumatera Utara menegaskan: “Salah satu potensi lahan untuk pengembangan kelapa sawit di Provinsi Sumatera Utara adalah lahan gambut, dengan total luas lahan gambut sebesar ± 524.885 Ha. Akan tetapi perlu kita ingat, bahwa eksploitasi di lahan gambut yang tidak berwawasan lingkungan akan menimbulkan kerusakan fungsi ekosistem gambut itu sendiri. Oleh karena itu, penerapan berbagai kebijakan terkait pengelolaan dan perlindungan kawasan gambut wajib dipahami dan diterapkan oleh semua pihak.”

Rumusan hasil pemaran dari para narasumber oleh Marsius Nainggolan S. Hut, MMA (Kepala Seksi Kerusakan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Utara) selaku moderator adalah: “Perlindungan dan pengelolaan ekosistem gambut harus dilakukan secara terus menerus, baik yang berada pada ekosistem dengan fungsi lindung, maupun pada ekosistem dengan fungsi budidaya.

Disamping masalah lingkungan, penggunaan lahan bergambut untuk perkebunan kelapa sawit memerlukan biaya produksi dan investasi yang sangat mahal, sedangkan produktivitasnya dalam jangka panjang sangat rendah, oleh karena itu dapat dipahami bahwa perluasan kebun ke lahan bergambut perlu dipertimbangkan.”

Perusahaan kelapa sawit Sumatera Utara perlu meningkatkan keseriusan dalam menangani masalah lingkungan dengan menerapkan praktek-praktek produksi yang baik, meminimalkan limbah, dan menekan biaya, serta memperhatikan peningkatan kompetensi sumberdaya manusia agar dapat bersaing dalam pasar internasional dan untuk mendapatkan harga yang lebih baik.****(CM/PR)

KOMENTAR

BACA JUGA