Chairani Tambunan, Hasilkan Kerajinan Tangan Lewat ‘Jaring Mimpi’

Chairani Tambunan, Hasilkan Kerajinan Tangan Lewat 'Jaring Mimpi'
Chairani Tambunan, Hasilkan Kerajinan Tangan Lewat ‘Jaring Mimpi’

Sekarang ini dream catcher atau penangkap mimpi tidak asing lagi dilihat oleh mata dan didengar oleh telinga kita. Kerajinan yang juga dapat dijumpai di Samosir, Danau Toba ini pertama kali muncul dari suku Ojibwe. Kerajinan yang dipercaya orang-orang Ojibwe memiliki hubungan dengan wanita laba-laba yang bernama Asibikaashi ini kini memang sedang banyak diminati. Hal ini membuat seorang mahasiswi Universitas Medan Area (UMA) bernama Chairani Tambunan bergelut dengan kerajinan tersebut.

Sebelum bergelut untuk membuat dream catcher pada pertengahan tahun 2013, gadis yang menyebut dream catcher dengan jaring mimpi ini memang sudah lama terjun di dunia kerajinan tangan. Dimana hasil kerajinan tangan yang dia buat tersebut diantaranya adalah rajutan, tas, dan ukir.

“Awal mulanya di tahun 2013 aku datang ke Samosir. Aku nggak tahu ada kalung yang berbentuk jaring yang disebut dream catcher. Disitu aku beli dan aku terkejut dengan harganya yang murah. Karena aku memang suka kerajinan tangan dan aku penasaran, sampe Medan aku bongkar dream catcher itu dan aku buat lagi, hasilnya jauh lebih cantik. Dari situlah aku buat jaring mimpi sendiri,” jelas Rani.

Gadis insomnia ini biasanya membuat jaring mimpi dimalam hari. Dimana orang-orang biasanya memanfaatkan waktu tersebut untuk beristirahat dan pagi hari untuk beraktifitas, dia justru memanfaatkan waktu malam untuk menggerakkan tangan yang menghasilkan jaring mimpi dan beristirahat di pagi hari. Baginya kebiasaan insomnya itu harus memiliki hasil. Bak lagu Roma Irama yang memiliki lirik ‘begadang jangan begadang, kalau tiada artinya.’

Jaring mimpi yang dibuat oleh Pemilik akun Instagram Ibumimpi ini memiliki ukuran yang berbeda-beda dan harga yang berbeda pula. Dimana semakin besar diameter yang diinginkan, maka semakin mahal pula harganya. Misalnya saja jaring mimpi berdiameter 3cm, yang mana pada proses pembuatannya memakan waktu 15 menit ini dibandrol dengan harga 25.000,-. Sedangkan untuk ukuran diameter 1meter dibandrol dengan harga 500.000,-.

Chairani Tambunan, Hasilkan Kerajinan Tangan Lewat 'Jaring Mimpi'
Chairani Tambunan, Hasilkan Kerajinan Tangan Lewat ‘Jaring Mimpi’

Hasil buah tangannya pun banyak diminati oleh orang-orang. Tidak hanya wilayah Medan saja melainkan juga sudah merambah keluar Negeri, seperti China, Jerman, dan Polandia. Tak jarang juga jaring mimpi hasil tangannya diminta untuk mengisi pameran atau membuka stand. Seperti pameran yang dilakuakan di Bandung oleh Pemko Bandung minggu lalu.

Jaring mimpi yang dibuat oleh Rani ini lebih fokus kepada custom atau pemesanan sesuai dengan keinginan customer. Dimana jaring mimpi yang dipesan sesuai dengan keinginan customer menggunakan bulu pilihan, seperti bulu merak atau bulu elang. Sedangkan jaring mimpi tidak pesanan yang biasanya dia buat dengan bulu ayam dan angsa. Hal ini tentunya juga akan berpengaruh pada harga jualnya.

Jaring Mimpi
Jaring Mimpi

“Pemesanan custom ini aku kasih harga sesuai dengan bahan yang mereka pilih beda dengan harga yang tidak pesanan. Biasnaya mereka minta pakai bulu merak, bulu burung hantu, atau bulu elang,” ungkapnya.

Keuletannya dalam membuat kerajinan tangan merupakan hasil dari didikan orang tuanya. “Dari kecil diajari mama kalau ingin sesuatu bikin sendiri. Jadi dulu disaat-saat anak TK itu megang boneka atau barbie, aku malah disuruh mama untuk buat boneka dari tanah liat sendiri, dan itu berhasil. Itu didikan orang tua yang sampe sekarang masih bertahan,” ungkapnya yang diikuti guratan senyum di wajah.

Chairani Tambunan Sang Ibu Mimpi
Chairani Tambunan Sang Ibu Mimpi

Tak hanya menghasilkan kerajinan sendiri, gadis berdarah batak ini juga turut aktif pada lembaga swadaya masyarakat dalam pemberdayaan wanita. Dimana dia membagi ilmunya kepada ibu-ibu untuk membuat kerajinan tangan seperti pembuatan pouch dari ulos.***(CM-06/Ika Rahmadani Lubis)

KOMENTAR

BACA JUGA