Anak Langkat Harap Kuala Menjadi Kecamatan Layak Anak

Anak Langkat Harap Kuala Menjadi Kecamatan Layak Anak
Anak Langkat Harap Kuala Menjadi Kecamatan Layak Anak

CERITAMEDAN.COM, SUMUT – Sebanyak 60 orang anak dari berbagai sekolah dan desa di Kabupaten Langkat, Minggu, 21/05/2017, menyerukan agar Kecamatan Kuala, diprogramkan menjadi kecamatan layak anak agar masyarakat dan pemerintah di kecamatan tersebut senantiasa memberikan kepentingan yang terbaik bagi anak.

Deklarasi anak yang merupakan bagian kegiatan Pentas Kreatifitas Anak Langkat 2017 (Pekan Langkat 2017) yang dipusatkan di SMAN 1 Kuala tersebut, dibacakan secara bersama anak-anak perwakilan lima sekolah (SD, SMP dan SMA) serta anak-anak yang mewakili desa-desa di Kabupaten Langkat.

“Dengan pelaksanaan Kecamatan Layak Anak di Kuala, hak-hak dan perlindungan anak dapat dipenuhi oleh pemerintah, keluarga dan masyarakat, terutama hak memperoleh pendidikan dan kesehatan yang layak, tidak dipekerjakan pada tempat dan bentuk pekerjaan terburuk serta anak-anak dapat berpartisipasi sesuai tingkat kematangannya, ujar Ferdinan, seorang perwakilan SMAN 1 Kuala, ketika membacakan enam rekomendasi anak pada penutupan kegiatan tersebut.

Menentang Pekerja Anak

Keumala Dewi, Direktur Eksekutif Yayasan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA, mengatakan Pentas Kreatifitas Anak Langkat 2017 yang mereka lakukan merupakan bagian dari peringatan hari internasional menentang pekerja anak yang diperingati setiap tanggal 12 Juni. “Agenda internasional dalam penghapusan pekerja anak saat ini terutama dikembangkan pada pekerja anak di sektor pemasok (supply chain),” ujar Dewi.

Sementara Misran Lubis, Manager Proyek Pengembangan Prinsip-prinsip Hak Asasi Anak dalam Dunia Bisnis, menambahkan bahwa rantai pasokan merupakan serangkaian kegiatan/proses yang melibatkan produksi dan distribusi satu produk. Dengan globalisasi rantai pasokan menjadi semakin kompleks, melibatkan para pekerja, usaha kecil dan perusahaan di seluruh dunia. Saat ini, sektor yang paling banyak memperkerjakan anak berusia 5-17 tahun adalah pertanian (59 persen), jasa (32,2 persen) dan industri (7 persen), ujar Misran.

Di Sumatera Utara, kata Misran Lubis, melalui survey yang dilakukan PKPA tahun 2016, di sektor perkebunan kelapa sawit, rantai pasokan pekerja anak ditemukan pada beberapa jenis seperti keterlibatan pekerja anak terhadap sub-kontrak buruh harian lepas, pekerja anak di kebun milik keluarga yang menjadi salah satu supplyer buah sawit ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dan anak-anak pengumpul buah sawit sisa “brondolan”.

Pekan Langkat 2017 ini, tambah Misran, merupakan bagian program besar yang dilakukan PKPA untuk mendukung kampanye penghapusan pekerja anak mulai dari sektor produksi utama sampai pada rantai pasokan. Untuk itu, kata Misran, semua pihak harus terlibat untuk mematuhi prinsip-prinsip bisnis dan hak anak.

“Promosi selain kami lakukan kepada pemangku kepentingan yaitu pemerintah, pengusaha dan sekolah juga kepada warga di desa-desa dan anak-anak secara langsung. PKPA akan terus melibatkan anak-anak dalam mengkampanyekan penghapusan pekerja anak di perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Langkat. Melalui Pekan Langkat 2017 yang mengusung tema: kampung bebas pekerja anak semoga seluruh lingkungan anak dapat menjadi basis penciptaan kondisi ideal bagi anak-anak untuk hidup, tumbuh dan berkembang secara optimal,” pungkas Misran.

Aneka Kegiatan

Pekan Langkat 2017, dilaksanakan PKPA, 20-21 Mei 2017 dengan berbagai kegiatan. Ada stand-stand yang menampilkan model-model pengurangan keterlibatan anak dalam bentuk-bentuk pekerjaan terburuk seperti stand konsultasi hak dan perlindungan anak, stand rumah industri kreatif, stand KESPRO dan pencegahan pernikahan usia anak serta stand pengembangan bakat dan kreatifitas anak.

“Selain pameran, anak-anak juga melakukan lomba naca puisi, lomba pidato, go talent anak Langkat 2017, serta dialog interaktif anak-anak dengan Pejabat Pemerintah Kabupaten, Kecamatan, Desa, dan Perwakilan Perusahaan terkait endidikan, penghapusan pekerja anak dan peningkatan fasilitas pengembangan bakat dan kreatifitas anak di desa,” ujar Keumala Dewi.

KOMENTAR

BACA JUGA