Lellinawati Siregar, Sulap Botol Plastik Jadi Aquarium Mini

Lellinawati Siregar, Sulap Botol Plastik Jadi Aquarium Mini
Lellinawati Siregar, Sulap Botol Plastik Jadi Aquarium Mini

Berawal dari ingin mengurangi sampah botol plastik, Gadis kelahiran Tapanuli Selatan yang kerap disapa Leli ini kini menekuni bidang olah bahan bekas. Botol minuman dengan sekejap disulapnya menjadi botol cantik yang lebih bermanfaat. Sejak dari semester tiga dia terus belajar untuk membuat bahan plastik ini terlihat cantik hingga semahir sekarang. Memang awal memulai kerajinan tangan ini tidak mudah. Dia menghabiskan satu semester untuk mempelajarinya. Selain mempelajari cara membuat botol plastik menjadi aquarium mini, anak bungsu dari tujuh bersaudara ini juga  mempelajari bahaya plastik untuk tubuh manusia dan sadar untuk membuat Medan bebas sampah.

Meski tercatat sebagai mahasiswa, dia tak merasa malu untuk mengutip botol yang dilihatnya dijalanan dan membawanya pulang. “Untungnya saya pakai tas besar. Jadi kalau ngelihat botol dijalan ya dikutip dan dimasukkan ke dalam tas,” ungkapnya.

Kerajinan botol bekas kini merubah kehidupan Leli menjadi pribadi yang lebih mandiri. Botol yang dikreasikan ini dibuat aquarium mini yang di isi dengan bunga dan nantinya dipasarkan. Dari hasil menjual aquarium mini Leli dapat membeli keperluannya sendiri tanpa kiriman dari ibunya yang saat ini menjadi tulang punggung keluarga satu-satunya.

Kerja keras dan kerja ikhlasnya kini membuahkan hasil. Dikenal banyak orang lewat karyanya, Leli tak tinggi hati. Leli dengan senang hati mengajarkan ilmunya dengan banyak orang tanpa takut ilmunya berkurang. Dia juga membuka jasa pelatihan dengan tarif yang relatif murah. Sejauh ini beberapa pelatihan telah dia isi, seperti pelatihan yang diadakan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, pelatihan yang diadakan di pengungsian korban Sinabung, dan pelathan dari beberapa ibu PKK di lingkungan kosnya.

Selain berbayar ternyata Leli juga melakukan pelatihan secara gratis dip anti asuhan. “Kalau di panti asuhan belajarnya gratis. Toh jadi amal juga untuk kita, jadi nggak ada masalah,” katanya.

“Anak sekitar kos juga belaja secara free tapi mereka harus bawa botol sendiri. Dan itu mnimal lima botol,” tambahnya.

Kerajinan tangan dari botol bekas ini dipasarkan oleh leli dengan harga Rp 10.000,-/ aquarium. Namun harga itu tidak menjadi harga tetap. Sebab saat dia menjajakan hasil kerajinan tangannya dikalangan siswa SD harganya hanya Rp 3.000 – Rp 5.000,- / aquarium. Dan jika dipasarkan di stand pameran, harga jualnya bisa mencapai Rp 100.000,-/ aquarium.  “Kalau ada anak SD yang membelinya, harganya Rp 3.000,- tapi kek kemarin waktu buka stand itu harganya Rp 100.000,- yang beli pertama walikota Medan waktu itu, baru ikutlah staff-staffnya,” ungkap Leli sambil mengingat momen itu.

Karena keuletannya membuat kerajinan dari botol bekas, Leli pun menyandang beberapa gelar dari orang-orang terdekatnya. “Leli Duta Sampah dan lingkungan hidup. Begitulah kira-kira julukan yang mereka sebutkan ke Leli,” paparnya.

Gadis berdarah mandailing yang memiliki nama lengkap Lellinawati Siregar ini tengah sibuk menyelesaikan skripsinya. Selain itu dia juga aktif bergelut di beberapa komunitas, seperti Komunitas Penggerak Diet Plastik (KPDP) dan juga Go-River Institute.

Keinginan dia pun sangat sederhana, “Aku ingin jadimata air yang terus mengalir. Dan membawa manfaat. Kedepannya kita jangan remehkan sampah. Sama-sama peduli terhadap bahaya sampah dan merubah kebiasaan untuk membuang sampah sembarangan,” tutupnya.

Bagi klen warga Medan yang mau belajar atau buat workshop tentang aquarium mini bisa menghubungi 0821 6784 0071 atau inbox langsng di FB Lelisagitasianjuan ciregar.*** (CM-07/Ika Rahmadani Lubis)

KOMENTAR

BACA JUGA