Indonesia Melek Media, Fasilitasi Masyarakat Menuju Masyarakat Melek Media

Indonesia Melek Media, Fasilitasi Masyarakat Menuju Masyarakat Melek Media
Indonesia Melek Media, Fasilitasi Masyarakat Menuju Masyarakat Melek Media

CERITAMEDAN.COM, Medan – Melihat media sekarang semakin banyak dan perkembangan tersebut membuat masyarakat kurang sadar akan menyikapi pemberitaan dengan seharusnya membuat komunitas Indonesia Melek Media hadir di tengah-tengah masyarakat. Komunitas yang bergerak di bidang pergerakan literasi media ini bertujuan untuk memfasilitasi masyarakat menuju masyarakat yang melek media.

Tercetus setahun yang lalu tepatnya pada 16 April 2016 di titik nol kota Medan kini resmi di launching. Persiapan program dan kegiatan kedepannya telah dirancang dengan matang oleh kumpulan anak muda yang membentuk komunitas ini dari sebuah cita-cita dan mimpi mereka. Dimana program dan kegiatan tersebut akan melibatkan masyarakat dan mencakup dunia literasi.

Menjadi media yang baik di era millennial ini sangat perlu, maka tak heran jika Indonesia Melek Media yang hadir ditengah kita menyuguhkan berbagai informasi tentang akan pentingnya kejelian kita akan informasi media. Dialog mengenai media saat ini dibahas dengan para pakarnya, yaitu  Muhammad Heychael selaku Direktur Remotivi dan Masdalifah Ph.D yang merupakan Pembina Indonesia Melek Media.

Barangkali kini kita rindu akan wajah Indonsia yang melek media, pandai menyeleksi, dan bijak dalam berbagi informasi yang didapat. Tidak seperti belakangan hari ini yang kebanyakan kita suka sekali menyebar informasi yang didapat dengan cepat tanpa harus mencari tahu apakah informasi tersebut benar atau tidak. Dimana berita tersebut jatuhnya hoax.

Belum lagi kini media mainstream tidak lagi peduli terhadap etika jurnalistik. Padahal jelas dalam setiap pemberitaan ada etika yang terkait didalamnya. Sebagaimana yang disampaikan Heychel “Seharusnya media televi harus menjunjung etika jurnalistik.”

“Misalnya saja tentang korban pelecehan seksual, dalam etika jurnalistik seharusnya korban tidak boleh diundang sebagai narasumber. Namun hal seperti ini ada kita jumpai di televsi. Mereka tetap mengudang korban pelecehan seksual,” tambahnya.

Kini pun tayangan media televisi tidak lagi baik. Isi konten dari televi 50% adalah negative. “Isi televisi 50% negative, dimana kontennya berisi kekerasan dan hal lainnya,” terang Heychael pria berkaca mata itu.

Adanya konten negative membuat Indoensia darurat melek media. Saat ini dapat kita lihat bahwa tayangan anak-anak beredukasi lebih sedikit daripada tayangan mistik dan gosip. Inilah salah satu hal yang menyebabkan kita darurat media. Dimana anak-anak dikesampingkan. Padahal sebagai agent of change seharusnya kita menyuguhkan hal-hal positif pada anak-anak, bukan malah sebaliknya.

Cerdas memahami media adalah hal yang perlu kita lakukan saat ini. Kita perlu memahami media mana yang baik untuk kita konsumsi dan media mana yang tidak perlu kita konsumsi. Tidak semua informasi yang kita dapat harus dipublikasikan.

Musdalifah memaparkan, “Memang sebagai masyarakat sosial kita butuh informasi. Setidaknya untuk memulia percakapan dengan orang disekitar kita. Tapi tidak semua informasi yang kita peroleh perlu di ungkapkan dimuka umum.”

Melihat kondisi masyarakat saat ini terhadap media inisiatif yang dilakukan Rizki dan tiga temannya adalah solusi yang tepat. Lewat sosialisasi dan pemberdayaan yang dilakukan pada masyarakat setidaknya ada kemajuan dalam mengkonsumsi media. Terlebih lagi jika pemberdayaan yang dilakukan adalah pemberdayaan yang berkelanjutan. Sebab dengan pemberdayaan yang dilakukan dengan berkelanjuatan adalah pemberdayan yang baik. Dengan begitu kehadiran Indonesia Melek Media di era millienial ini benar-benar hadir mencerdaskan masyarakat dalam mengkonsumsi berita, baik cetak maupun elektronik. *** (CM-06/Ika Rahmadani Lubis)

 

 

KOMENTAR

BACA JUGA