Qintari Ayu Aninditha, Penggiat Sosial, Segudang Prestasi

Qintari Ayu Aninditha, Penggiat Sosial, Segudang Prestasi

Qintari Ayu Aninditha, gadis cantik asal Medan ini sudah mengantongi banyak prestasi di usia 22 tahun. Kini ia masih aktif sebagai mahasiswa pasca sarjana di Fakultas Psikologi Klinis Anak, Universitas Sumatera Utara. Wanita ini sejak kecil bercita-cita menjadi seorang public speaker yang mampu menumbuhkan kesadaran para remaja agar menjadi agen perubahan dalam segala hal positif serta meretas persoalan bonus demografi.

Merasa bingung melakukan apa setelah lepas dari bangku SMA. Bosan dengan kegiatan monoton, lalu mencoba melebarkan sayap ke dalam dunia organisasi. “Dari SD sampai SMA saya sudah menari, jadi bosan kalau itu-itu saja, pengen yang lebih substansial. Ada teman yang nganjurin gabung kedalam komunitas. Komunitas Duta Mahasiswa itulah yang berada di bawah naungan BKKBN, dimana setiap tahunnya mereka mengadakan lomba bagi mahasiswa. Nantinya yang terpilih akan menjalani program itu, keliling ke desa-desa melakukan penyuluhan. Itulah yang saya lakukan saat terpilih. Intinya supaya banyak anak muda yang tidak menikah muda,” jelas Qintari.

Menekuni kesibukannya sebagai penggiat sosial sudah sejak menyelesaikan studinya di bangku putih abu-abu. Mengawali kegiatannya sebagai seorang speaker di ajang pemilihan Duta Mahasiswa Generasi Berencana oleh BKKBN pada tahun 2012. Kemudian tugas yang harus diemban selama 1 tahun menjabat sebagai Duta Mahasiswa Generasi Berencana adalah mengurangi angka pernikahan dini, mengurangi statistik pengguna NAPZA, meningkatkan kesadaran tentang HIV/ AIDS pada pemuda. Memberikan penyuluhan kepada anak muda di desa-desa. Kemudian berlanjut pada kecintaannya sebagai seorang pembicara yang sekaligus sebagai hobinya.

Terpilihnya Qintari sebagai Duta Mahasiswa Generasi Berencana, ternyata membukakan pintu untuk kemajuan karier Qintari selanjutnya. Setelah tak lagi menjabat sebagai Duta Mahasiswa Generasi Berencana, Qintari tetap aktif mengontribusikan pengetahuannya seputar dunia kesehatan remaja. Qintari mengaku, sering mengikuti konferensi-konferensi kepemudaan setelah itu. Pada tahun 2013 berpartisipasi dalam Indonesia Youth Forum di Bandung, di akhir tahunnya pada bulan Desember terpilih sebagai wakil Indonesia dalam International Youth Leadership Conference di Dubai. Pada tahun 2014 mewakili Indonesia dalam rapat pemuda G30S tentang pendidikan untuk pemuda dan aksesnya di German. Semua keberhasilan ini diperolehnya melalui jalur kompetisi essai.

Dari banyaknya jam terbang yang dilalui oleh Qintari tentunya sangat berpengaruh terhadap peningkatan kemampuanya bak verbal maupun nonverbal. Semua kompetisi essai yang dilaluinya mengharuskan Qintari untuk kompeten dalam menulis. Dari tulisan tersebut yang akan menjadi penilaian terhadap pengetahuan serta keseriusannya untuk berkontribusi merubah kondisi sosial Indonesia.

“Saya kan psikolog dan itu sangat erat kaitannya dengan edukasi, kan? Jadi kalau kita punya ide yang bagus namun tidak bisa dituangkan kedalam tulisan, orang nggak bakal tahu. Saya belajar nulis khusus untuk IWF, waktu itu saya mengangkat permasalahan yang marak di Sumatera Utara yaitu pernikahan usia dini dan unemployment. Kala itu saya menulis bahwa wanita juga banyak yang tidak aktif dalam ekonomi, karena salah satu penyebabnya yaitu menikah muda, kemudian bagaimana caranya dengan kekuatan komunitas yang saya gandeng, permasalahan tersebut bisa terkikis,” tutur Qintari.

“Kalau yang di German, lingkupnya lebih besar lagi, ngomonginnya Indonesia. Secara statistik gimana? Saya bahas soal Bonus Demografi, Indonesia ini kan adalah salah satu Negara yang pada tahun 2030 nanti akan mencapai Bonus Demografi. Jadi, jika hal ini bisa dimanfaatkan dengan baik, stimulasi ekonomi akan kencang banget. Logikanya pasti bakal butuh banyak banget lapangan kerja. Kalau cuma mnegharapkan lapangan kerja saja juga nggak bakal cukup. Perlu ada kesadaran untuk menggali potensi lebih dalam lagi, melanjutkan pendidikan profesi misalnya. Karena Indonesia membutuhkan banyak pekerja profesi,” jelas Qintari.

Qintari mengaku sampai saat ini masih aktif terlibat dalam kegiatan sosial, bahkan dalam proses ingin membentuk sebuah komunitas sosial bersama BKKBN. Di tengah-tengah kesibukannya meretas permasalahan remaja dan bonus demografi, Qintari tetap tidak lupa merilekskan tubuh dan pikirannya untuk bermain anggar di dalam komunitas Medan Fancing Club sejak tahun 2013, namun kini jarang digelutinya lagi. Sesuai dengan keindahan parasnya, gadis bertutur kata lembut dan tegas yang mencintai seni tari ini memilih anggar untuk memanjakan tubuh. Anggar yang tidak jauh dari seni keindahan tubuh, dipilihnya sebagai alternatif yang lebih menantang.

Jika dilihat dari penampilan fisiknya, banyak yang akan berpandangan bahwa gadis cantik ini seorang model. Siapa yang menyangka ternyata Qintari malah sangat tidak tertarik dengan dunia tersebut. “Saya dulu sempat jadi model, tapi nggak lagi. Karena pandangan orang mengenai model itu nggak bisa saya terima. Orang bilang kalau model itu cuma cantik doang, pengetahuannya nggak ada. Hal ini sepertinya nggak sejalan dengan saya. Selain itu cita-cita saya juga jadi model, makanya saya tinggalin,” ujar Qintari.

Qintari Ayu Aninditha, Penggiat Sosial, Segudang Prestasi

Selain itu, gadis ini mengaku sebagai salah satu psikolog dalam Yayasan Ongkologi Anak (YOAM). “Tugas saya memberikan dorongan dan motivasi kepada anak-anak penderita kanker. Kita saja yang orang dewasa bisa stress, kan? Apalagi anak-anak tapi sudah terkena kanker. Maka dari itu harus diajarkan untuk tetap merasa bahagia dalam kondisi apapun. Dan berkaitan juga kan dengan jurusan psikologi saya,” tutup Qintari.***(CM-04/Chairunnisa)

KOMENTAR

BACA JUGA