Tradisi Perayaan Bulan Maulid dari Hamparan Perak

Tradisi merupakan hal yang sangat sulit untuk ditinggalkan bahkan dilupakan begitu saja. Tradisi merupakan hal yang harus selalu kita ingat. Kehadiran tradisi dapat merekatkan silaturahmi antar orang yang memiliki satu budaya yang sama.

Keberagaman budaya juga menyebabkan semakin banyaknya tradisi yang ada pada setiap daerah. Sudah sepatutnya kita tetap menjaga apa-apa yang menjadi peninggalan nenek moyang kita. Kebanyakan nasyarakat yang tinggal di desa yang masih peduli dan menjalankan tradisi yang medeka miliki khususnya di desa yang ditinggali oleh mayoritas suku yang sama. Maka, akan semakin merekatlah budaya dan tradisi yang ada pada suku tersebut.
Layaknya sebuah desa di Kecamatan Hamparan Perak Kabupaten Deli Serdang provinsi Sumatera Utara, Desa Kota Rantang, namanya. Masyarakat yang tinggal di desa ini masih sering mengadakan acara-acara tradisi mereka yang mayoritasnya adalah masyarakat bersuku Banjar atau Kalimantan. Contohnya saja pada bulan Rabi’ul Awal ini, yang biasanya mereka menyebutnya dengan Bulan Maulid atau bulan kelahiran dari Nabi Muhammad Saw. Mereka akan mengadakan acara berayun setiap datangnya bulan Maulid ini pada setiap tahunnya.
Acara ini merupakan acara mengayunkan anak bayi berusia dibawah 2 tahun. Acara ini diadakan secara berjamaah dan akan diiringi dengan alunan nada marhaban yang berupa pujian kepada Nabi Muhammad Saw. Tradisi dari masyarakat Banjar yang tinggal di Desa ini masih terus dilakukan hingga tahun ini. Perayaan acara berayun ini memiliki beberapa syarat bagi para orangtua yang ingin anaknya diayun secara serempak di sebuah gedung pertemuan bagi setiap acara yang dilakukan oleh warga sekitar. Adapun beberapa syarat untuk mengikuti segala rangkaian acara adalah kain panjang, bendera, kue, beras, pulut kuning, telur rebus, gula merah, kelapa, tangga yang terbuat dari tebu
Adapun beberapa persyaratan ini memiliki beberapa arti bagi masyarakat Banjar di desa ini. Pertama, beras. Beras disini juga diatur banyaknya, yaitu sebanyak 4 kg. Beras disini adalah simbol dari putihnya jiwa seorang anak dan dari beras ini juga didoakan agar setiap anak yang ikut diayun tidak akan kekurangan/kesulitan mencari makan selama hidupnya.
Persyaratan kedua, gula merah. Gula merah disini memiliki simbol doa agar selama hidupnya nanti, para bayi ini akan mengalami hal-hal manis dalam hidupnya layaknya gula merah yang mempunyai rasa manis.
Persyaratan ketiga, tangga yang terbuat dari tebu. Hal ini merupakan simbol bahwa selama hidupnya nanti mereka akan melalui banyak tingkatan yang membuat mereka semakin tinggi layaknya tangga. Dan tangga ini terbuat dari tebu untuk menjelaskan bahwa apapun yang akan lewati nanti dari tahap satu ke tahap lainnya, akan ada rasa manis/hikmah yang akan mereka rasakan.
Persyaratan keempat, buah kelapa. Maksudnya agar para bayi ini kelak akan menjadi orang yang bermanfaat bagi setiap orang di sekelilingnya layaknya kelapa yang memiliki berjuta manfaat dari buah, batang hingga daunnya. Bahkan batok kelapa yang sudah tak terpakai lagipun memiliki manfaat. Inilah yang ingin disemogakan oleh para orangtua yang mengayunkan anaknya.
Persyaratan kelima, pulut kuning dan telur rebus. Kedua makanan ini merupakan simbol dari ungkapan rasa syukur kepada Allah Swt atas segala rahmatnya sehingga bisa memiliki kemampuan untuk tetap hidup di dunia.
Sedangkan persyaratan selanjutnya seperti bendera, kain panjang, dan kue, yang merupakan persyaratan tambahan yang membuat semakin meriahnya perayaan bulan Maulid ini.
Perayaan setiap tahun sekali ini sangat dinanti oleh para masyarakat sekitar. Bahkan setelah acara secara seremonial ditutup dengan berakhirnya doa di penghujung acara, para masyarakat yang berada di luar masuk dan memperebutkan bendera yang sudah tertancap pada setiap ayunan dari para bayi ini. Wah, sungguh pemandangan yang seru. Dan disinilah terpupuknya rasa kebersamaan antaf warga masyarakat yang tinggal di daerah ini. ***(CM-05/Dwi Andriani Lestari

KOMENTAR

BACA JUGA