Sejuta Cerita di Balik Sejarah Stasiun Kereta Api Medan

Sejuta Cerita di Balik Sejarah Stasiun Kereta Api Medan

Medan sebagai kota bisnis tak lepas dari pegaruh Tembakau Deli. Dibangunnya Stasiun Kereta Api Medan, menjadi pendukung Medan berkembang sebagai pusat perdagangan dan bisnis. Maraknya perdagangan Tembakau Deli membuat Belanda mulai berpikir serius soal Tembakau Deli. Niat mengelolanya muncul dan terlihat jadi satu peluang bisnis menjanjikan. Akhirnya pada tahun 1862 Jacob Nienhuys mendarat di Labuhan Deli. Belanda mengamanahkannya dengan sebuah visi uji coba potensi tembakau. Hanya butuh dua tahun, Tembakau Deli bekembang pesat dan dicap dengan mutu terbaik. Hubungan serta jaringan kolonial Belanda yang luas membuat tembakau ini punya pasar khusus ke mancanegara yaitu Bremen dan Amsterdam. Perkembangan pesat Tembakau Deli ini tentu berpengaruh bagi kota Labuhan Deli. Labuhan Deli menjadi pusat perdagangan dan pemerintahan dan menarik sejumlah investor dari mancanegara.

T. Cremer yakni manajer Perusahaan Deli (Deli Matschappij) menganjurkan agar membangun jaringan kereta api di Deli. Bahkan beliau mendesak agar pembangunan dapat dibangun dan direalisasikan secepat mungkin mengingat pesatnya perkembangan perusahaan Perkebunan Deli. Dia juga telah menganjurkan pembukaan jalan yang menghubungkan antara Medan-Berastagi dengan fasilitas hotel seperti Hotel Grand Berastagi dan Bukit Kubu yang sekarang sebagai tempat peristirahatan pengusaha perkebunan.

Di samping itu, berkembangnya Belawan sebagai bandar kapal ekspor hasil perkebunan ke Eropa telah pula mendorong laju percepatan pembangunan jaringan kereta api yang menghubungkan daerah-daerah perkebunan di Sumatra Timur. Namun pemerintah menganggap jalur transportasi sungai dinilai cukup lambat dalam proses angkutan hasil produksi perkebunan menuju Belawan. Pemerintah Belanda pun merencanakan pembangunan jaringan kereta api yang menghubungkan Belawan-Medan-Delitua-Timbang Langkat (Binjai). Pada bulan Juni 1883, proyek perkebunan Belanda dipindahtangankan dari Deli Matschappij kepada Deli Spoorweg Matschappij (DSM). Pada tahun itu pula, presiden komisaris DSM, Peter Wilhem Janssen merealisaikan pembangunan rel kereta api yang menghubungkan Medan-Labuhan pada tanggal 25 Juli 1886.

Perkembangan relasi kereta api cukup signifikan sejalan dengan ekspansi pengusaha perkebunan ke beberapa kawasan di Sumatera Timur. Pada tahun 1888 kawasan-kawasan seperti Belawan, Deli dan Binjai telah dapat dilalui oleh kereta api. Tercatat pula Tjong A. Fie sebagai donatur pembangunan jaringan kereta Api Labuhan-Belawan. Pembangunan kereta api dilanjutkan dengan menghubungkan antara Lubuk Pakam-Bangun Purba yang dapat digunakan pada tahun 1904. Selanjutnya, pada tahun 1916 dibangun rute Kereta Api yang menghubungkan Medan-Siantar yang menjadi pusat perkebunan teh di Siantar yang masih bertahan hingga saat ini. Pada tahun 1929-1937 turut pula dibangun jaringan Kereta Api yang menghubungkan Kisaran-Rantau Prapat.

Setelah tersebar luasnya jaringan kereta api yang menghubungkan Labuhan Deli dengan wilayah Sumatera Timur, kolonal Belanda terus mengembangakan jaringan Kereta Api Deli. Pengusaha Kereta Api Deli (DSM) berencana untuk menghubungkan jaringan kereta api Deli di Sumatera Timur dengan Kereta Api milik negara di Aceh (Atjeh Staatspoor) dengan jaringan Kereta Api Sumatera Barat. Dalam studi kelayakan yang dilakukan oleh DSM, direncanakan akan membangun jaringan kereta api Lubuk Linggau-Kota Pinang. Pembangunan jaringan kereta api di Sumatera Barat dilakukan terlebih dahulu yang menghubungkan lintas Taluk-Teluk Bayur sepanjang 273 km, lintas Taluk-Tembilahan sepanjang 212 km dan lintas Taluk-Pekan Baru sepanjang 155 km. Pengusaha dan penguasa kolonial telah merencanakan jaringan kereta api Trans Sumatra yang menghubungkan kota-kota di Sumatera, mulai dari Aceh hingga Palembang. Sumatera Timur (Medan) direncanakan sebagai Pusat perkebunan dan Belawan menjadi Pelabuhan Internasional eksport dan import.

Karyawan yang dipekerjakan pada perusahaan DSM adalah orang Eropa, Asia dan Inlanders. Hingga pada pada tahun 1939, perusahaan DSM telah memiliki struktur organisasi yang jelas dan berkedudukan di Medan dan Amsterdam. Struktur organisasi dimaksud terdiri dari Dewan Komisaris, Direktur, Sekretaris, Komisi Wilayah Medan dan Administratur Medan. Tercatat pula, salah seorang Dewan Komisi Wilayah Medan pernah dipegang oleh orang Indonesia yakni Djaidin Purba yang juga pernah menjabat sebagai Walikota Medan.

Medan telah direncanakan menjadi kota berstandar internasional dan Sumatera Utara dibentuk sebagai kawasan pusat perkebunan di Indonesia. Hal ini tentu saja didukung oleh pelabunan Belawan yang sudah ramai dikunjungi sebelum kedatangan pengusaha kolonial, dimana Belawan telah dikenal sebagai bandar niaga yang super sibuk pada abad 12-13M. Namun, upaya untuk menuntaskan jalur Kereta Api Trans Sumatera itu tidak tercapai seiring dengan meningkatnya ketegangan Indonesia dan Belanda pasca tahun 1940.

Sejuta Cerita di Balik Sejarah Stasiun Kereta Api Medan

Pasca Indonesia merdeka dan memasuki awal tahun 1950-an, kabinet pemerintahan Indonesia di bawah kendali Bung Karno melakukan nasionalisasi aset pemerintah kolonial Belanda menjadi milik pemerintah Indonesia. Oleh sebab itu, jaringan Kereta Api Deli (DSM) diubah menjadi PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) Divisi Regional-I Sumut-NAD.

Unit kereta api yang beroperasi di stasiun ini terdiri dari beberapa jenis dan rute. Berikut adalah jadwal lengkap kereta api yang melayani keberangkatan dari Stasiun Medan Kota (MDN) yang dirangkum berdasarkan jadwal terbaru tahun 2015:

Nama KA Stasiun Keberangkatan Stasiun Kedatangan Waktu Keberangkatan Waktu Kedatangan
Siantar Ekspres (U58) Medan Siantar 13.27 16.47
Putri Deli (U52) Medan Tanjung Balai 07.35 11.45
Putri Deli (U54) Medan Tanjung Balai 12.32 16.45
Putri Deli (U56) Medan Tanjung Balai 17.55 22.25
Sribilah (U44) Medan Rantauprapat 08.40 14.27
Sribilah (U46) Medan Rantauprapat 10.37 16.14
Sribilah (U48) Medan Rantauprapat 15.37 21.19
Sribilah (U50) Medan Rantauprapat 22.35 03.44
Sri Lelawangsa Medan Binjai 12 kali 12 kali

 

Sementara untuk arah sebaliknya, berikut adalah jadwal lengkap kereta api yang beroperasi menuju Stasiun Medan Kota (MDN):

Nama KA Stasiun Keberangkatan Stasiun Kedatangan Waktu Keberangkatan Waktu Kedatangan
Siantar Ekspres (U57) Siantar Medan 07.25 11.20
Putri Deli (U51) Tanjung Balai Medan 08.55 13.25
Putri Deli (U53) Tanjung Balai Medan 14.35 18:55
Putri Deli (U55) Tanjung Balai Medan 19.40 23.53
Sribilah (U43) Rantauprapat Medan 08.40 14.25
Sribilah (U45) Rantauprapat Medan 15.30 21.12
Sribilah (U47) Rantauprapat Medan 17.30 23.00
Sribilah (U49) Rantauprapat Medan 23.10 04.25
Sri Lelawangsa Binjai Medan 12 kali 12 kali

 

  • KA Siantar Ekspress adalah kereta api kelas ekonomi (K3) yang menguhubungkan Kota Medan dengan Kota Pematang Siantar. Stasiun-stasiun yang disinggahi antara lain stasiun Dolok Merangir, Baja Linggei, Tebing Tinggi, Bamban Lidah, Tanah Lubuk Pakam, Araskabu, Batangkuis dan Bandar Klipah.
  • Kereta Api Putri Deli merupakan kereta api ekonomi dengan rute Medan – Tanjung Balai PP yang singgah di stasiun Bandar Klipah, Batangkuis, Lubuk Pakam, Bamban, Tebing Tinggi, Bandar Tinggi, Lima Puluh, Sei Bejangkar dan Kisaran.
  • Kereta Api Sribilah adalah kereta api eksekutif bisnis yang melayani perjalanan Medan-Rantau Prapat dan sebaliknya. Stasiun-stasiun yang disinggahi yaitu Batangkuis, Lidah Tanah, Tebing Tinggi, Dusun, Kisaran, Puluraja, Aekloba, Membang Muda, Pamingke, Padang Halaban dan Marbau.
  • Kereta Api Sri Lelawangsa, keberangkatan dari Medan ke Binjai maupun dari Binjai ke Medan. Nomer kereta dengan angka genap merupakan kereta api dari Medan tujuan Binjai, sedangkan kereta dengan nomor kereta ganjil adalah kereta dari Binjai tujuan ke Medan. Kereta api ini memiliki 12 jadwal yang menghubungkan Binja-Medan-Tebing Tinggi.

Kereta Api Stasiun Medan Kota juga menghubungkan dengan Kereta Api Bandara yang akan melayani penumpang sejak pukul 04.00 pagi dari Stasiun Medan dan terakhir pukul 23.35 dari Stasiun Bandara Kualanamu. Terletak sekitar 32 km dari Kota Medan, Bandara Kualanamu merupakan Bandara pertama di Indonesia yang terkoneksi dengan transportasi Kereta Api yang dikelola PT Railink ini tentunya akan memberikan keefisienan waktu dalam menuju dan berangkat dari Bandara Kualanamu.

Stasiun Medan Kota (MDN) adalah stasiun kereta api yang kini menjadi pusat layanan kereta api di wilayah Sumatera Utara. Stasiun yang terletak di pusat Kota Medan ini merupakan stasiun kereta api terbesar di Divisi Regional 1 Sumatera Utara dan NAD. Di samping bangunan stasiun terdapat monumen lokomotif uap bertipe 2-6-4T buatan Hartmann (Kemudian bernama Sächsische Maschinenfabrik) di Chemnitz, Jerman tahun 1914. Stasiun Medan Kota ini setiap harinya melayani 2000-2500 penumpang ke seantero Sumatera Utara.***(E-03/Muhammad Rizky Ananda)

KOMENTAR

BACA JUGA