Rutgers WPF Ikut Sertakan Peran Laki-laki Mengatasi Kekerasan Seksual pada Anak.

Rutgers merupakan organisasi non permerintahan berpusat di Jalan Pejaten Barat Raya No. 17B, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, sebagai pusat di Indonesia yang memiliki lingkup kerja dalam hal hak dan kesehatan seksual serta reproduksi dan kekerasan berbasis gender serta seksual. Dalam penanganan kasus kekerasan seksual yang menjadi korban adalah wanita. Saat wanita mengalami kekerasan, rumah adalah tempat teraman dan ternyaman terlebih lagi jika wanita tersebut sudah memiliki pasangan dan anak, suami adalah tempatnya berbagi kisah. Dalam hal ini Rutgers memiliki tiga program yang menarik peran lelaki sebagai pelaku kekerasan seksual pada umumnya. Program-program tersebut adalah, konselliing laki-laki, laki-laki peduli dan generasi jagoan.

Laki-laki Peduli (Men Care) merupakan program global yang sudah berlangsung sejak tahun 2013 oleh Rutgers WPF. Program ini dibiayai oleh Kementrian Luar Negeri Belanda dan dijalankan di empat Negara yakni Indonesia, Brazil, Afrika Selatan dan Rwanda. Tujuan dibentuknya program Laki-laki Peduli untuk ayah oleh Rutgers WPF adalah berpartisipasi menghapus kekerasan seksualitas berbasis gender kepada perempuan dimana laki-laki sebagai aktor  perubahannya.

“Konseling laki-laki pelaku kekerasan dan laki-laki peduli merupakan program CSE Rutgers WPF yang melibatkan laki-laki secara aktif sebagai agen perubahan serta memaknai ulang maskulinitas laki-laki secara positif. Dalam program ini laki-laki sebagai kepala rumah tangga diberikan bimbingan serta arahan melalui konseling agar bertanggung jawab serta harus berani berbagi peran dalam pengasuhan anak,” ujar Andre selaku Manager CSE Rutgers WPF Indonesia. Anak tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab wanita sebagai ibu dalam pengasuhannya, namun laki-laki sebagai kepala rumah tangga juga bertanggung jawab terhadap keamanan anak dan ibunya agar terhindar dari kekerasan seksual.

Generasi Jagoan diperuntukkan bagi remaja laki-laki dimana remaja laki-laki merupakan generasi muda yang harus diintervensi agar memahami isu gender. Kegiatan yang dilakukan bukan hanya melakukan diskusi tetapi juga sharing terkait permasalahan gender. Kegiatan tersebut bukan hanya disekolah namun juga dalam komunitas. Jadi, remaja laki-laki diintervensi agar menjadi lebih peka dan sensitif terhadap permasalahan wanita. Bahwa keberadaan antara wanita dengan lelaki adalah sama. Dalam program ini, remaja diintervensi agar memahami arti penting wanita serta kesetaraan gender antara laki-laki dan wanita agar kekerasan seksual terhadap wanita berkurang.

Dapat dikatakan bahwa, program ini secara aktif melakukan pencegahan melalui laki-laki yang belum terkontaminasi dengan memberi wawasan tentang hidup dan menghargai hak setiap orang atas kesehatan seksual dan reproduksi mereka. Dalam kegiatannya, program ini juga banyak menjabarkan landasan hukum anti kekerasan yang harus dipatuhi agar dapat menyebarluaskan arti pentingyan menghapus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Diharapkan nantinya, program Laki-laki Peduli akan menunjukkan perubahan perilaku dan sikap terhadap laki-laki.

“Banyak kegiatan di dalam program-program tersebut yakni melakukan kunjungan-kunjungan di tingkat komunitas, nantinya akan ada sesi belajar, sesi diskusi, sharing dan juga ada role model. Rutgers WPF mencari champions yang bisa memberikan contoh kepada peserta program, bahwa menjadi laki-laki sekaligus kepala keluarga seperti apa?” tambah Andre.

Program Laki-laki Peduli membuktikan sekaligus menyadarkan para laki-laki bahwa mereka belum sepenuhnya memahami apa yang harus mereka lakukan. Kadang secara tidak sadar malah bertindak kekerasan yang terpicu oleh emosi. Dalam melakukan program-programnya Rutger WPF tidak pernah sendiri, Rutgers selalu melibatkan organisasi lain. Program-program tersebut juga sudah banyak dijalankan di daerah-daerah seperti Medan, Lampung, Jakarta, Surabaya, Madura serta kota-kota lainnya.***(CM-04/Chairunnisa)

KOMENTAR

BACA JUGA