Mari Bertoleransi ala Medan tanpa Kotak

Mari Bertoleransi Ala Medan Tanpa Kotak
Finalis XL Future Leader Penggagas Medan Tanpa Kotak

Semakin hangatnya isu SARA di Indonesia  membuat kita juga merasa saat ini Indonesia tengah diguncang dengan masalah yang serius. Pasalnya isu tentang agama menjadi hal yang sangat sentimentil jika kita membicarakannya tanpa dasar yang jelas. Atas dasar inilah para finalis XL Future Leader tergerak untuk melakukan kegiatan sebagai bentuk usaha untuk kembali menumbuhkan sikap toleransi antar etnis. Medan Tanpa Kotak merupakan salah satu kegiatan yang berawal dari tuntutan proyek dari program XL Future Leader untuk mencapai gelar graduation. Terbentuknya gerakan Medan Tanpa Kotak dilatarbelakangi karena adanya isu keagamaan yang sedang hangat di Medan pada bulan Juli 2016 lalu. Dimana pada saat itu tengah hangat isu terbakarnya vihara di Tanjung Balai karena adanya bentrokan antar agama yang ada.

Gerakan Medan Tanpa Kotak dibentuk oleh keempat finalis XL Future Leader yang berasal dari Universitas Sumatera Utara (USU), yaitu Dame Diarnita Sianipar, Sherly, Lina Suryaningsih Silitonga, dan Aulia Satria. Melalui gerakan ini, mereka melakukan kampanye-kampanye yang menyuarakan tentang toleransi antar umat beragama yang ada. Tak sedikit respon yang mereka dapatkan dalam setiap pergerakan kampanye yang mereka lakukan. Selain respon positif dari masyarakat Medan, mereka juga pernah mendapatkan respon negatif dari para masyarakat tentang gerakan yang mereka bentuk.

The reason we have societis is so that we can be better together than any individual member can be alone. Salah satu alasan mengapa Medan Tanpa Kotak terlahir. Selain bergerak dalam kampanye, para penggerak Medan Tanpa Kotak juga membuka stand di pameran ilmiah & kreativitas mahasiswa (PIKM) IX 2016 USU, melakukan talkshow komunitas di iRadio Medan untuk lebih memperkuat keberadaan dari Medan Tanpa Kotak di Medan ini. Medan Tanpa Kotak ini kelak akan dibentuk menjadi sebuah komunitas yang akan mengajak para pemuda-pemudi Medan untuk bergabung dan bersatu untuk menumbuhkan sikap toleransi antar umat beragama.

Sejauh ini, Medan Tanpa Kotak sudah melakukan sekitar 3 atau 4 kali kampanye di berbagai tempat di Medan. Mereka juga pernah melakukan kegiatan di Lapangan Merdeka Medan yang saat itu tengah ada kegiatan Car Free Day.  Medan Tanpa Kotak sering memosting di akun Instagram beberapa postingan yang masih terkait dalam himbauan bersatu dalam keberagaman. Bukan hanya itu, Medan Tanpa Kotak juga sering memberikan qoutes yang ditulis oleh beberapa orang dalam stand yang diadakan oleh Medan Tanpa Kotak. Medan Tanpa Kotak memiliki tagline “Sadar, hargai, bersatu dalam keberagaman” yang selalu tertera di setiap postingan mereka di Instagram. Setelah selesai dengan proyek dan tugas mereka di XL Future Leader, mereka memiliki keinginan untuk terus menjalankan Medan Tanpa Kotak.

Mari Bertoleransi Ala Medan Tanpa Kotak

“Sangat disayangkan saja kalau kegiatan ini tidak berlanjut. Apalagi ini, isu agama semakin sering terdengar. Kami berharap masih harus tetap berjalan,” ujar Dame, salah satu penggagas terbentuknya Medan Tanpa Kotak. Dame juga memaparkan bahwa saat ini mereka juga tengah memersiapkan apa saja yang menjadi konsep dari Medan Tanpa Kotak itu sendiri. mereka juga sedang mencari partner untuk dapat diajak bersama dalam melakukan setiap aksi yang akan mereka lakukan ktika mereka sudah membentuk Medan Tanpa Kotak ini menjadi sebuah komunitas.

Para penggagas Medan Tanpa Kotak juga berharap agar Indonesia semakin aman, damai, tentram dan saling bertoleransi antar etnis yang ada. “Jika ada yang salah dari orang lain yang berbeda etnis dengan kita, apa salahnya kita ngomong baik-baik. Berusaha simple saja, saling toleransi intinya. Memang tidak ada yang salah ketika kamu memilih untuk berekspresi, namun apa salahnya kita duduk bareng mencari solusi dari maslah yang ada tanpa perlu ribut. Toh, bagaimanapun negara kita juga nanti yang bakal pecah belah,” tutup Dame.***(CM-05/Dwi Andriani Lestari)

KOMENTAR

BACA JUGA