Famita Destyana Utari, Mengubah Phobia Melalui Aksi Peduli

Famita Destyana Utari, Mengubah Phobia Melalui Aksi Peduli

Gadis kelahiran 23 Desember 1990 ini memiliki keinginan untuk terus memberikan pertolongan sebagai support bagi orang-orang yang terkena kanker membawanya untuk lebih memelajari segala hal yang berkaitan dengan kanker itu secara otodidak. Berawal dari adanya kepedulian terhadap anak-anak penderita kanker yang sering kesusahan dalam mendapatkan stok darah, Famita tergerak untuk memberikan bantuan berupa sarana sebagai wadah interaksi antara masyarakat dan para penderita kanker sebagai upaya untuk menyalurkan darah ketika para penderita kanker membutuhkannya.

Dara bernama lengkap Famita Destyana Utari ini merupakan anak pertama dari dua bersaudara dari Ibu Hermiwaty dan bapak Fachri.  Memiliki hobi backpacker dan volunteering, membawanya untuk lebih aktif dalam kegiatan yang berbau kerelawanan, seperti yang tengah digelutinya saat ini yaitu sebagai founder dari Apheresis Medan.

Famita memiliki latar belakang pendidikan Sekolah Dasar Negeri 060866 dan berlanjut ke SMP Negeri 11 Medan. Setelah selesai dalam pendidikan SMP, Famita melanjutkan sekolah Menengah Atas di SMA Dharmawangsa dengan mengambil jurusan IPA. Setelah masa SMA terselesaikan dengan baik, Famita melanjutkan pendidikan ke S1 Ilmu Komunikasi USU pada tahun 2008-2012.

Ketakutannya terhadap darah tak membuatnya lantas mundur untuk melanjutkan misinya dalam menolong orang lain.  Segala sesuatu diupayakannya agar segala visi misi utama Apheresis dapat berjalan dengan baik. Famita meminta bantuan dari orang lain yang mengerti tentang darah dan kanker, baik itu dari perawat ataupun dokter.

Famita memaparkan bahwa dulunya dia berencana untuk mengambil pilihan kedokteran ketika melanjut ke bangku kuliahnya. Namun, Famita sadar bahwa dia memeliki kekurangan terhadap apa yang harusnya dimiliki oleh seorang dokter, yaitu keberanian dalam melihat darah dan tidak pelupa. Yang nantinya akan selalu ditemuinya pada saat profesi dokter telah digelutinya. Akhirnya, meskipun lulus pada kebidanan USU, Famita tidak mengambilnya. Dan Famita lebih memiliklh untuk menjadi mahasiswa Ilmu Komunikasi. Namun pada November 2013, Famita membentuk suatu komunitas yang membawanya untuk lebih berani dalam melihat darah. Kini phobia terhadap darah telah berkurang.

Tak ada niat lain dari Famita untuk mendirikan komunitas sosial ini, Famita hanya ingin mengikuti firman Allah yang menyuruh setiap hamba-Nya untuk dapat hidup bermanfaat bagi orang lain selama diberikan kesempatan hidup di dunia. Dengan niatan lillahi ta’ala inilah yang membuat Famita terus berusaha memberikan pemahaman kepada orang awam yang masih asing kala mendengar doror darah Apheresis. Melalui postingannya di media sosial Facebook, Famita mengajak setiap elemen untuk dapat memberikan darahnya bagi para penderita kanker khususnya bagi mereka yang berada pada ekonomi menengah ke bawah.

“Alhamdulillah, semakin lama semakin banyak yang bersedia sebagai pendonor siaga bagi penderita kanker,” ucap Famita. Hanya bermodalkan keinginan yang kuat untuk menolong para penderita kanker dan kecintaannya terhadap anak-anak serta menyukai segala ilmu tentang kedokteran. Famita tetap gigih membentuk dan terus mengawasi jalannya komunitas Apheresis Medan. Dahulunya, tak pernah terpikir untuk membentuk suatu komunitas. Namun, karena adanya panggilan nurani untuk membantu sesama manusia. Tanpa pikir panjang, Famita membentuk Apheresis sebagai wadah untuk mengumpulkan para relawan yang mengabdikan hidup demi membantu orang lain tanpa pamrih.

Wanita berdarah melayu ini tengah sibuk dengan beberapa kegiatan organisasi, seperti Bacpacker Medan, UKM Fotografi USU, Triple P (Pemuda Peduli Panti), Apheresis Medan, Abi Foundation, Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Sumatera Utara. Dan bekerja sebagai admin export di PT Madjin Crumb Rubber Factory dan merupakan owner di @mitun_gallery.

Famita hanya memiliki harapan simple namun sangat mulia, “Harapannya hanya mau membuat orang lain sebagai lebih banyak yang peduli. Dan semakin banyak yang membantu,” harap Famita. (Cm-05/Dwi Andriani Lestari)

KOMENTAR

BACA JUGA