IBX5A49C9BC313D6 6 Fase Putus Cinta yang Pasti Kamu Alami. Kamu Sudah Masuk Fase yang Mana? | Cerita Medan

6 Fase Putus Cinta yang Pasti Kamu Alami. Kamu Sudah Masuk Fase yang Mana?

Tidak Selamanya Menangis Pertanda Sebagai Pribadi Lemah

Banyak yang mengatakan bahwa fase patah hati adalah fase yang paling menyakitkan. Seakan ada kiamat kecil dalam hidup kita. Dan dunia pun terasa runtuh. Rasa sakit dalam hati yang masih fresh terasa kian membuat penderitanya merasa tak bersemangat. Mau makan tak selera, mau tidur pun tak bisa. Berbagai cara dilakukan untuk melupakan kesedihan. Ada yang positif, ada pula yang negatif. Semoga kamu termasuk orang – orang yang positif dalam menyembuhkan patah hati, ya. Sebelum kamu move on, kamu perlu tahu beberapa fase putus cinta yang sedang kamu alami. Sudah sampai fase mana kah kamu? Semoga tidak lama – lama bersedih karena patah hati.

Fase Pertama, Tepat setelah putus, hati terasa remuk redam

Awalnya kamu punya ekspetasi tinggi atas hubungan yang kamu jalin bersamanya. Mimpi-mimpi besar bersama pun telah dirancang secara sempurna. Mau tinggal dimana setelah menikah dan mau punya anak berapa jadi pertanyaan wajib yang rutin dilontarkan. Semua terasa indah. Tapi namanya juga manusia, hanya bisa berencana, kan. Rencana yang kamu susun secara rapi harus terhempas begitu saja. Layaknya sebuah lego yang kehilangan salah satu bagiannya, lalu tak bisa lagi berdiri sendiri. Begitu juga hatimu. Retak begitu saja, ketika harapan demi harapan kamu sadari harus pupus. Dia lebih memilih meninggalkan daripada bertahan. Maka remuk redam ini tak bisa terbendung lagi. “Aku mau mati aja” adalah kalimat tak asing yang terucap ketika kamu baru saja putus dan terasa sangat menyakitkan. Duh!

Fase Kedua, Semua masih terasa seperti mimpi, padahal kemarin dia masih di sisi

Kesedihan yang kamu hadapi rasanya terlalu berat. Setelah merasa tak ingin hidup lagi, kamu merasa perpisahan ini masih seperti mimpi. Belum lama ini di masih di sisi, tapi ternyata dia sudah pergi. Kamu pun tak mau memercayai kenyataan ini. Kamu merasa pasti hubungan kalian masih bisa diperbaiki. Tapi sekuat apapun kamu berusaha, dia tak pernah mau kembali. Fase ini masih membuat kamu mengingat – ingat kembali indahnya kebersamaan bersama nya dulu dan kamu sadar kini dia tak lagi disisi mu.

Fase Ketiga,  Meski masih sakit, setidaknya hatimu mulai membaik.

Kamu harus mulai mencoba berkenalan dengan orang baru. Tapi kok pikiran tentang dia tak pernah pergi? Oke, kamu mulai menerima kenyataan sekarang. Yang pergi biarlah pergi, kamu pun kembali mencoba membuka hati dan berkenalan dengan baru. Kamu harap orang-orang baru yang kamu temui ini mampu menyembuhkan luka hati dan membawa harapan baru. Tapi apa daya, otak dan pikiranmu belum mau diajak kompromi. Bayang-bayang dia terasa masih selalu menempel di angan. Kamu pun mulai bingung harus berbuat apa.

Fase Keempat, Kangen.

Coba cari kabar tentang mantan lagi. Tapi kenyataan dia sudah punya kekasih baru. Dulu, terbiasa bersama membuat rasa rindu merasuk di kalbu. Kamu rindu kebiasaan-kebiasaan yang kamu lakukan bersama dia dulu. Rasanya ingin mengulang lagi masa-masa itu. Dimana kamu merasakan bahagia dan tak ada beban apapun. Kamu pun mencoba menghubungi mantan kembali. Hanya ingin menanyakan kabarnya sekarang, sembari berharap bisa balikan. Namun lagi-lagi kamu salah langkah. Mantanmu yang kamu pikir juga merasakan kesedihan yang sama, ternyata tidak sama sekali. Dia kini telah bahagia dengan pasangan barunya. Sabar, ya.

Fase kelima, Kenyataan pahit yang kamu terima, bikin kamu enggak percaya lagi sama cinta.

Dengan sesumbar kamu bilang enggak butuh lagi cinta. Segala kenyataan pahit yang kamu terima ini, membuatmu jadi pribadi yang apatis. Kamu tak percaya lagi pada cinta. Bagimu cinta itu sia-sia dan tak ada gunanya. Kamu merasa akan lebih bahagia jika hidup tanpa cinta! Iya, keyakinanmu sebesar itu.

Fase akhir, Lapang Dada

Akhirnya kamu sadar, kemarin kamu hanya belum menemukan sosok yang tepat lagi. Kini kamu bersedia melapangkan hati. Selamat! Kamu sudah berhasil melewati semua fase. Kini kamu cuma bisa menertawai diri sendiri, kenapa kemarin-kemarin begitu labil dan emosi yang tak terkontrol. Sekarang kamu sudah terlahir menjadi pribadi yang baru. Kamu sadar, sakit hatimu kemarin terjadi karena kamu belum menemukan sosok yang tepat. Bukan berarti lebih baik, tapi sosok baru yang bisa membuatmu mengerti lagi seperti apa rasanya jatuh cinta lagi. Kini kamu menjalani hidup lebih ringan. Karena hati yang lebih lapang dan keikhlasan yang tak pernah kamu sesalkan. Patah hati kemarin membuatmu menjadi pribadi yang belajar banyak hal baru.

Patah hati memang menyakitkan. Tapi kamu cuma perlu menghadapinya saja, karena rasa sakit membuktikan bahwa kamu masih hidup selayaknya manusia biasa. Pandai – pandailah menyikapinya ya agar kamu tak salah langkah sampai parahnya menyiksa diri sendiri. Tetap semangat! ***(K-02/ Adenovina Dalimunthe)

KOMENTAR

BACA JUGA