Pasti Klen Nggak Tau, Ini Dia 5 Keunikan Kota Medan

Keunikan Kota Medan
Keunikan Kota Medan

Medan, salah satu kota terbesar se-Indonesia. Kota yang terdiri dari berbagai macam suku dan ras di dalamnya. Suku Melayu, Batak, dan Cina adalah kebudayaan yang kental mendominasi kota yang juga dijuluki surganya kuliner nusantara ini. Dengan beragamnya kebudayaan yang ada di Kota Medan, membawa kota ini sendiri pada sejarah yang luas sejak zaman penjajahan dulu. Kota yang terkenal dengan ikon Istana Maimun ini juga memiliki segudang talenta anak daerah yang membanggakan di kancah nasional maupun internasional. Kesenian, parawisata lokal, makanan yang selalu memberikan kesan yang membekas di memori setiap wisatawan dalam maupun luar negeri yang berkunjung kesini. Hanya saja, Medan kental dengan aksen gaya bicara yang dianggap orang luar terlalu kasar. Padahal, itu sendiri yang menjadi ciri khas Medan. Ngomongnya boleh bersuara kuat dan terdengar kasar, namun jangan ragukan kerendahan hati anak Medan, ya. Sebagai anak Medan, hal apa saja yang belum kamu tahu tentang Medan? Kali ini kami akan berikan bocorannya ke kamu.

 

Nama Daerah dari Luar Negeri

Medan adalah kota yang dibangun oleh Belanda. Fakta ini seringkali terlupakan. Padahal, jika tidak dibuka oleh Belanda pada zaman penjajahan, mungkin tempat yang merupakan Medan tetaplah hutan yang tak terhuni. Maka dari itu, pada masa penjajahan banyak sekali orang asing berada di Medan. Tercatat ada dua nama tempat di Medan yang merupakan bahasa asing. Pertama, Helvetia. Helvetia adalah nama latin untuk negara Swiss. Penamaan ini mengacu pada dua pemilik perkebunan tembakau asal Swiss, Mots dan Breaker. Mereka membuka perkebunan tembakau di Deli bernama Konigsgrätz. Nama tempat lain yang juga berasal dari luar negeri adalah Polonia. Polonia berasal dari nama negara Polandia. Negara asal Baron Michalsky, yang juga membuka perkebunan tembakau Sumatera Timur.

 

Balai Kota

Bangunan ini dibangun pemerintah Belanda dengan arsitek Van Oywend/ Van Ovwend dengan struktur bangunan Modern Style. Bangunan Export Import Bank yang letaknya di simpang Jalan Raden Saleh dan Jalan Ahmad Yani menurut Keterangan dibangun pada tahun 1924. Gedung ini mula-mula dipergunakan untuk kantor “Nederlanshe Handel Maatschappij”, dan pada masa penjajahan Jepang gedung ini dipakai sebagai kantor “Gunseikambu”. Selain untuk Kantor Bank Eksport Import, gedung ini juga dipakai untuk kantor pemasaran bersama PT Perkebunan Nusantara IV Cabang Medan, namun pada saat ini gedung dipergunakan sebagai kantor Bank Mandiri Medan.

 

Perpustakaan Tengku Luckman Sinar

Luckman Sinar adalah salah satu sejarawan Melayu yang terpandang. Sekarang, rumahnya dijadikan perpustakaan dimana buku bacaan dan buku yang ditulisnya bisa diakses oleh siapa aja.

Tengku Luckman Sinar
Tengku Luckman Sinar – Foto  pemkomedan.go.id

Bangunan ini beralamat di Jalan Abdullah Lubis No. 42 Kota Medan, kamu bisa menelusuri sejarah Melayu dan Medan masa lampau.

 

Sejarah Catur Indonesia Dimulai dari Medan

Catur dibawa oleh orang Belanda. Permainan ini sudah dimainkan dan populer sejak lama, tapi tak ada satu koran Belanda pun yang memberitakannya. Barulah inisiatif dari Sumatera Post, sebuah koran di Medan untuk mempublikasikannya di tahun 1904.

sejarah-catur

Sebuah kisah catur dengan setting di Tanah Deli dikisahkan di koran ini. Koran ini mengisahkan adanya pertemuan dua laki-laki di sebuah kebun (plantation). Laki-laki pertama adalah seorang Abtenar, pejabat Belanda datang ke kantor pengusaha kebun (Planter) asal Jerman bernama Muller. Kisah pertentangan dua orang ini bermain catur merupakan informasi pertama adanya tentang eksistentis catur di Indonesia. Selain itu, lewat pemberitaan inilah diketahui betapa presitiusnya permainan catur ini.

 

Freemason

Jauh sebelum ide Freemason, Zionisme dan lain-lain memenuhi forum terbesar Indonesia dan semua orang tiba-tiba menggilai konspirasi ini. Freemason cukup besar di Medan berawal dari perkebunan. Sangat logis mengingat pada zaman pra kemerdekaan, banyak petinggi perkebunan umumnya berasal dari Eropa. Orang-orang inilah yang membawa ide Freemason ke Indonesia. Perekrutan anggotanya dilakukan secara inkonvensional yaitu dengan membuka iklan di “Deli Courant”. Pada awalnya gedung yang digunakan menyewa kepada Lim Tek Swie dan pada tahun 1892, Loge berdiri sendiri di Jalan Serdang Weg (Jl. Muhammad Yamin). Misi Freemason adalah menghapus pemisah antar manusia, salah satu yang dianggap sebagai pemisah adalah agama.

Banyak hal yang baru kita ketahui selama bertahun-tahun kita menetap di Kota Medan. Semoga informasi di atas menambah ilmu kamu sebagai Anak Medan, ya. Ahhoii! Horas!***(K-02/Adenovina Dalimunthe)

KOMENTAR

BACA JUGA