IBX5A49C9BC313D6 Program Peduli Yayasan Samin Jadi Tolak Ukur Isu Anak | Cerita Medan

Program Peduli Yayasan Samin Jadi Tolak Ukur Isu Anak

Program Peduli Yayasan Samin Jadi Tolak Ukur Isu Anak
MC Program Peduli Yayasan Samin

Program Peduli untuk isu Inklusi Sosial pada kelompok Anak/Remaja Rentan dan pekerja anak digelar oleh Yayasan Samin (Sekretariat Anak Yayasan Merdeka), dalam agenda acara yang berlangsung 14-16 September 2016 di Ballroom Santika Dyandra Hotel & Convention Medan.

Guna melihat dan menyebarluaskan praktik-praktik baik yang telah dilakukan dan diperoleh dari masing-masing wilayah dampingan, maka Yayasan Samin menyelenggarakan acara penutupan program Peduli periode 2015-2016 dengan tajuk “Memetik Hikmah Program Peduli”.

Diharapkan dengan adanya kegiatan ini, maka praktik terbaik yang muncul dapat dijadikan sebagai pembelajaran bagi daerah dan isu lain. Selain itu, diharapkan pula akan muncul strategi dan ide untuk keberlanjutan program serupa baik di level individu, masyarakat, sektor swasta, akademisi, dan tentu saja pemerintah. Hal tersebut dikatakan Odi Shalahuddin, Ketua Pengurus Yayasan Yasmin, Kamis, (15/09).

Odi Shalahuddin, Ketua Pengurus Yayasan Samin
Odi Shalahuddin, Ketua Pengurus Yayasan Samin

Program ini tentunya mengumpulkan seluruh staff Peduli Samin, perwakilan seluruh mitra pelaksana Samin, perwakilan Komite Peduli Masyarakat (KPM), perwakilan anggota Gugus Tugas/Working Group (WG), DFAT, TAF, dan tentu saja Kemenko PMK selaku penanggungjawab dari Program Peduli di level pusat. Perwakilan kelompok anak dari wilayah Medan dan Langkat (Barak Induk).

 

Kelompok Tereksklusi Agar di Inklusi

 

Peta Eksklusi yang paling banyak dirasakan oleh anak dalam wilayah dampingan program ini adalah : Pendidikan, Kesehatan, dan adminduk yang terutama akte. Namun demikian, prasangka, kekerasan, eksploitasi bahkan pengusiran masih dialami oleh sebagian anak di wilayah dampingan.

Berbicara mengenai eksklusi, Odi Shalahuddin mengatakan bahwa mengenai eksklusi, yakni ada kelompok-kelompok yang terabaikan, tidak diperhatikan dan disingkirkan. “Untuk itu dilakukan upaya inklusi, bagaimana orang-orang yang terkesklusi itu memiliki keyakinan diri dan martabat sehingga mampu bernegosiasi bersama-sama dengan kelompok masyarakat lain membangun perubahan,” kata Odi kepada Cerita Medan bahwa terus menggerakkan upaya inklusi merupakan program kerja bersama.

Untuk yang mengeksklusi, lanjut Odi, bagaimana upaya mengubah pandangan mereka terhadap kelompok yang tereksklusi. Karena, yang mengeklusi adalah masyarakat sekitar mereka. “Misalnya, dalam satu masyarakat ada anak difable, mungkin masyarakat tidak begitu memperhatikan dan itu dianggap bukan bagian dari mereka. Atau tidak menyadari ada persoalan di tempat mereka itu. Tapi ketika mereka mengambil kebijakan, tanpa sadar atau tidak sadar telah mengeksklusi peran atau keputusan dari mereka,” jelasnya.

Sri Eni Purnamawati
Sri Eni Purnamawati, Pengurus Yayasan KKSP

Yayasan KKSP (Kelompok Kerja Sosial Perkotaan) yang fokus pada inklusi sosial anak jalanan, tentu perannya adalah bagaimana semua anak-anak jalanan bisa menjadi seperti anak-anak yang lain. Semua orang yang kurang beruntung baik itu anak-anak yang tidak sekolah, miskin, tidak punya rumah.

“Mereka itu kan tidak ikut dalam gebyar pembangunan kita ini. Kita menganggap itu sebagai sebuah eksklusi, oleh karena itu kita mau mengingklusikan diri mereka bahwa anak-anak tersebut berhak untuk bersama-sama dapat menikmati ini semua,” kata Eni.

Anak-anak di jalan, dikeluarkan dari sistem kesejahteraan yang dibangun. “Tidak merata pembagiannya, mungkin karena tidak teridentifikasi mereka dimana, siapa orang tuanya, akar masalahnya dimana. Karena khususnya di inklusi anak jalanan, kita mau anak-anak jalanan kita ini diterima di masyarakat. Sambil dia ‘dibangunkan’ bahwasanya bisa jadi dia nanti presiden suatu saat nanti,” jelas Eni.

Menurut Eni, anak-anak jalanan punya potensi yang memang perlu diasah lagi. Hanya saja mereka tidak punya akses ke tempat-tempat seperti anak-anak yang berpunya. Dimana keluarganya menyekolahkan, punya waktu lebih banyak untuk anak-anak mereka.

Eni mencontohkan, peran KKSP terhadap anak misalnya mereka sebenarnya bisa bersekolah kalau dia memang mau sekolah. Jika dia tidak mau sekolah, maka berilah opsi-opsi lain. Seperti kursus, dan lainnya. “Karena KKSP adalah sebagian kecil dari masyarakat luas dalam bersama-sama untuk memperhatikan nasib anak-anak,” katanya.

Bagaimana membangun dan menggali potensi masyarakat dan anak-anak marjinal merupakan upaya yang terus digalakkan selama ini. Bila mereka yang tidak masuk ke dalam mainstream. Misal, mau masuk sekolah, tapi umurnya kelewatan. Nah, maka kita menghubungkan kepada program-program pemerintah untuk itu. Alternatif lain juga digalakkan agar mereka tetap dapat perlakuan yang tidak termarjinalkan.

Mengenai peran KKSP dalam pengaplikasian program kerja selama ini, yakni dengan cara membuat studi untuk mendapatkan data anak, misal tentang pengasuhan anak, kota layak anak. “Ditingkat kebijakan kita juga ambil andil. Salah satu kebijakan yang sudah diemplementasikan yakni tentang bagaimana pemerintah Indonesia mengakui pengeleminasian pekerja anak di tempat-tempat yang terburuk. Kita merasa mempunyai kontribusi, yang mana kasus yang panjang itu dikenal oleh masyarakat sebagai advokasi jermal,” ungkap Eni.

Dijelaskannya, sektor pendidikan dan ketenagakerjaan serta pelayanan sosial, berupaya semaksimal mungkin agar tidak ada lagi anak-anak jalanan. “Caranya juga kepada pihak keluarga juga diminta untuk tidak mentelantarkan anak sembarangan. Maka diberikan sanksi yang berat bila anaknya wira-wiri di jam sekolah.”

Keinginan KKSP sejauh ini adalah, bagaimana sama-sama mengedepankan hak-hak dasar anak-anak yaitu hak hidup, tumbuh kembang, perlindungan dan partisipasi pihak keluarga dan kita juga. “Standart kehidupan yang lebih baik itu seperti apa, kita belum punya itu. Kalau kita biarkan dia dijalanan, maka potensi mendapatkan kekerasan pasti ada,” cetus Eni.

Ditanya mengenai progres kedepannya nasib anak jalanan, Eni mengatakan, kita sebagai orang yang mengerti tentang pembangunan, maka harus melihat itu dari struktur pembangunan juga. Karena kita pikir hal tersebut bisa menjawab persoalan itu. “Untuk pemerintah, fokuslah untuk anak. Mereka diberikan kesempatan yang sama, dan untuk kita bagaimana tetap menggelorakan persoalan ini tidak bisa dianggap hal biasa,” pungkasnya.

Nasriati Muthalib
Nasriati Muthalib

Nasriati Muthalib, yang juga berkecimpung sebagai pendamping anak jalanan di Rumah Belajar KKSP, melihat bahwa pendidikan akademis yang diberikan kepada anak-anak jalanan perlu ditambahi dengan peran serta mereka untuk dapat andil berkegiatan di dalam lingkup masyarakat. Tujuannya adalah supaya mereka juga dapat diterima di lingkungan sosial tempat tinggalnya. Peran masyarakat menjadi faktor penentu dalam tujuan mulia untuk pemberdayaan diri mereka.

“Mereka hanya butuh diapresiasi dengan ketulusan hati. Anggap mereka bagian dari masyarakat, jangan menutup mata bahwa sebenarnya mereka dan kita ini sama. Butuh banyak tangan untuk membantu anak-anak jalanan itu agar saling menerima, tidak merasa termarjinalkan. Selama pendampingan, saya coba mempelajari sifat dan keinginan mereka. Bahwa sebenarnya yang dibutuhkan mereka adalah bagaimana belajar hidup berdampingan dengan masyarakat dan masyarakat belajar mengurangi stigma negatif kepada anak jalanan,” tutup Nasriati.***(CM/Wahyu Blahe)

KOMENTAR

BACA JUGA