Hati-hati Penggunaan Internet tanpa Pengawasan

Penggunaan Internet Tanpa Pengawasan
Penggunaan Internet Tanpa Pengawasan

 

Seringnya anak maupun remaja tanggung menggunakan fasilitas internet tanpa pengawasan orang tua  memberikian cela lebar bagi mereka dalam mencari konten-konten yang tergolong tak mendidik. Seperti yang kita sama-sama ketahui bahwa segala hal yang berbau media sosial merupakan dunia tanpa batas dan siapapun bebas memosting apapun.

 

Sedangkan gambar-gambar berbau pornografi bukanlah hal baru dan mudah untuk didapat ketika berseluncur di dunia maya. Tentunya adanya konten-konten tersebut akan berdampak buruk secara psikologis seseorang, kini tak hanya berupa foto maupun video lagi tapi sudah sampai kepada chating personal. Inilah yang mendorong munculnya berbagai tindakan kriminal seperti praktek-praktek prostitusi secara online, human trafficking, penipuan dan sebagainya.

 

Masalah semakin besar  lagi mengingat konten-konten negatif pada internet ataupun media sosial tak mampu melihat anak-anak baik itu laki-laki maupun perempuan sebagai penggunanya. Sehingga sangat mungkin kalau mereka terpengaruh dengan apa yang dilihatnya, sebab seorang anak belum memiliki cukup filter untuk memilah-milah baik atau buruknya sesuatu. Sampai pada akhirnya para generasi penerus bangsa ini pun bisa dikatakan sebagai korban.

 

Bahkan ada beberapa kasus yang memang tujuannya adalah menyerang anak-anak dikarenakan ketidakpahaman dan kepolosan pemikiran mereka. Berbagai modus dilancarkan oleh para pelakunya, Dimulai dari media sosial hingga komunikasi secara personal sampai anak tersebut mau melakukan yang diminta olehnya. Praktek kejahatan seperti ini banyak dilakukan oleh akun-akun palsu menggunakan nama dan juga profil yang tak sesuai dengan kenyataan.

 

Salah satu contohnya yang terjadi pada beberapa waktu yang lalu adalah dimana ada seseorang yang mengaku sebagai seorang dokter dengan nama Lia Halim Dokter (akun Facebook palsu) dan ia telah mengumpulkan sebanyak 10.236 foto pornografi anak dengan modus konsultasi perubahan fisik, kesehatan remaja dan kondisi lain pada calon korbannya.

 

“Indonesia sendiri sedang dalam krisis soal masalah ini. menurut riset pada tahun 2014 Indonesia berada dalam sepuluh besar negara dengan jumlah anak dibawah umur yang memosting dan melihat konten-konten pornografi,” jelas Ismail Marzuki sebagai salah satu Staff Media Officer dari Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) ketika ditemui pada sebuah acara yang membahas soal pengaruh media sosial pada pelajar.

 

Peran orangtua pun sangatlah penting dan diharapkan untuk memecahkan permasalahan ini. Kerap kali orang tua membebaskan anak-anak mereka bermain dengan gadget, dengan berbagai alasan mulai dari alat untuk berkomunikasi, belajar, agar tidak lasak atau menangis, sampai anggapan supaya tak kalah dengan anak-anak lain. Padahal barang-barang tersebut bukan merupakan kebutuhan bagi mereka, hanya saja karena sudah terbiasa disuguhkan.

 

Penting bagi seorang anak untuk mengisi waktunya dengan kegiatan-kegian yang interaktif terhadap lingkungan, bukannya malah hanya memilih menatap layar kaca seharian. Bermain di luar ruangan seperti bersepeda, bermain bola, lari-larian, kerja kelompok serta berinteraksi dengan teman-teman seumurannya nyatanya jauh lebih baik bagi perkembangan pribadi mereka dibandingkan dengan gadget.

 

Berkaca dari maraknya kejadian tersebut maka perlu ada tindakan yang kongkrit untuk mengatasi permasalahan ini. Hanya melarang dan membatasi saja ternyata tak cukup sebab, itu akan menanamkan pada diri mereka rasa penasaran yang begitu besar sehingga secara diam-diam malah akan mencari tahunya sendiri tanpa ada pengawasan dari orang dewasa. Perlu ditambahkan edukasi agar mereka dapat mengerti dan memahami apa-apa saja yang boleh dan tidak ketika menggunakan jejaring sosial.***(CM-03/Rio Khairuman)

KOMENTAR

BACA JUGA